Sabtu, 27 Februari 2016

RODA-RODA KEBERHASILAN

RODA-RODA KEBERHASILAN

(Membahas Cakka Sutta-AN & Dasuttara Sutta-DN)

“Patirupe vase dese, ariyamittakaro siya;
Sammapanidhisampanno, pubbe punnakato naro;
Dhanam dhanam yaso kitti, sukhancetamdhivattati.”

“Ketika seseorang berdiam di tempat yang seusai dan bergaul  dengan para mulia, ketika ia telah membentuk tekad yang benar, dan telah melakukan perbuatan berjasa di masa lampau, panen, kekayaan, kemasyuran, dan reputasi, bersama dengan kebahagiaan akan mendatanginya.”
(Anguttara Nikaya , Catukkanipatapali-Cakkasuttam)

      Jika berbicarakehidupan tentu semua  orang ingin hidup yang baik. Hidup yang baik ini bukan hanya masalah hidup yang bebas dari masalah. Hidup yang baik yaitu perkara bagaimana seseorang dapat mencapai tujuan-tujuannya. Tujuan seseorang pastilah berbeda, dari satu orang ke orang yang lainnya. Mencapai kesuksesan itulah bahasanya. Sukses hanya sebuah kata untuk memberikan pernyataan, pernyataan atas suatu hal yang orang harapkan kemudian didapatkannya. Sukses inipun bukan juga masalah materi, tetapi lebih dari itu adalah masalah batin atau mental.

      Banyak cara, banyak jalan, dan banyak solusi bagi seseorang yang ingin mencapai tujuan-tujuannya, menjadi sukses dan merasa berhasil atas apa yang dicita-citakannya. Dalam hal ini tentu saja kita semua tidak dapat mengelak atau menghindar dari kenyataan bahwa, kita membutuhkan solusi untuk sukses dan mencapai tujuan-tujuan tersebut.

      Sebagai umat Buddha yang tentu mengenal Dhamma sebagai ajaran Buddha, kita haruslah berusaha mencari jalan atau solusi tersebut di dalamnya,bukan malah keluar dari Dhamma, atau malah bertolak belakang dengan Dhamma. Dalam hal ini, Buddha pernah menguraikan di dalam Anguttara Nikaya, Catukkanipatapali-Cakkasuttam bahwa ada empat roda yang ketika roda ini berputar, maka para dewa dan manusia akan emncapai kebesaran dan kekayaan berlimpah, termasuk tujuan-tujuan hidupnya. Apa keempat roda tersebut:

1.      Patirupadesavaso
Bertempat tinggal di tempat yang sesuai.

2.      Sappurisavasayo
Bergaul dengan para mulia atau memiliki teman yang baik (kalyanamitta)

3.      Attasammapanidhi
Telah membentuk tekad yang benar atau memahami apa yang berguna bagi dirinya sendiri.

4.      Pubbe ca katapunnata
Memiliki simpanan kebajikan di masa lampau atau telah melakukan perbuatan berjasa di masa lampau.

Itulah empat hal yang ketika dimiliki oleh seseorang, maka apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya akan tercapai.

      Pada bagian Sutta yang lain di Digha Nikaya – Dasuttara Sutta, Buddha juga mengatakan bahwa empat roda ini sebagai cattaro bahukaro yaitu empat hal yang sangat membantu. Artinya sama dengan di dalam Cakka Sutta-Anguttara Nikaya, bahwa empat hal ini dapat membantu pada pencapaian tujuan-tujuan di dalam hidup ini. Pada kedua Sutta tersebut, keduanya disebut sebagai “Roda”. Mengapa demikian, karena sama seperti roda pada umumnya yang digunakan pada kendaraan-kendaraan, roda tersebut dapat membantu laju kendaraan tersebut. Dengan demikian maksud dari roda tersebut (cakka) yaitu ketika dimiliki akan membantu pemiliknya untuk melaju dalam kehidupan ini.

      Kehidupan ini memang sulit, namun akan semakin sulit jika kita selalu beranggapan demikian. Sebaliknya tidak banyak beranggap namun banyak bertindak, itulah awal dari kemudahan hidup. Banyak bertindak tanpa banyak beranggapan.

Ceramah Dhamma oleh : Bhikkhu Gunapiyo Minggu Tanggal 31 Januari 2016
Sumber : Berita Dhammacakka N0. 1125 Minggu Tanggal 31 Januari 2016.

Kisah Sammajjana Thera

      Sammajjana Thera mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyapu halaman vihara. Pada waktu itu, Revata Thera juga tinggal di vihara, tetapi tidak seperti Sammajjana, Revata  Thera mempergunakan sebagian besar waktunya untuk bermeditasi atau pemusatan batin secara mendalam. Melihat kebiasaan Revata Thera, Sammajjana Thera berpikir bahwa thera-thera yang lain hanya bermalas-malasan menghabiskan waktunya.

      Suatu hari Sammajjana pergi menemui Revata Thera dan berkata , “Kamu sangat malas, hidup dari pemberian makanan yang diberikan dengan penuh keyakinandan kemurahan hati, tidakkah kamu berpikir kamu sewaktu-waktu harus harus membersihkan lantai , halaman atau tempat-tempat lain?”

      Revata Thera menjawab, “Teman, seorang bhikkhu tidak seharusnya menghabiskan seluruh waktunya untuk menyapu. Ia harus menyapu pagi-pagi sekali, kemudian pergi untuk menerima dana makanan. Setelah menyantap makanan, sambil merenungkan kondisi tubuhnya ia harus berusaha untuk menyadari kesunyataan tentang kumpulan kehidupan-kehidupan (khanda), atau lainnya, membaca buku-buku pelajaran sampai malam tiba. Kemudian ia dapat melakukan lagi pekerjaan menyapu jika ia menginginkannya.”

      Sammajjana Thera dengan tekun mengikuti saran yang diberikan oleh Revata Thera dan tidak lama kemudain Sammajjana mencapai tingkat kesucian Arahat.

      Bhikkhu-bhikkhu lain mengetahui sampah yang tertimbun di halaman. Mereka bertanya kepada Sammajjana mengapa ia tidak menyapu seperti biasanya.

      Sammajjana menjawab , “Ketika saya tidak sadar, saya setiap saat menyapu, tetapi sekarang saya tidak lagi tidak sadar.”

       Ketiak para bhikkhu mendengar jawaban tersebut, mereka menjadi sangsi, sehingga mereka pergi menghadap Sang Buddha, dan berkata, “Bhante, Sammajjana Thera secara tidak benar mengatakan dirinya sendiri telah menjadi seorang Arahat, ia mengatakan hal yang tidak benar.”

      Kepada mereka , Sang Buddha menjawab , “Sammajjana telah benar-benar mencapai tingkat kesucian Arahat, ia mengatakan hal yang sebenarnya.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 172 berikut:
Barangsiapa yang sebelumnya pernah malas, tetapi kemudian tidak malas, maka ia akan menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan.”

Sumber : Dhammapada Atthakatha
loading...

Artikel Terkait

Posting Terbaru