Sabtu, 18 Juli 2009

Pesan Teroris Buat SBY

INILAH.COM, Jakarta – Teror bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton jelas membawa pesan yang berkaitan dengan kemenangan politik SBY-Boediono dalam Pemilu Presiden 2009. Di tengah dukungan AS dan dunia internasional untuk SBY, teroris seolah ingin berpesan bahwa Indonesia masih dalam jangkauan tangan mereka. Inilah tantangan untuk aparat!

Tak bisa dipungkiri bahwa dukungan AS dan dunia internasional terhadap kelanjutan pemerintahan SBY terus menguat. Ini tercermin dari isu dukungan AS untuk SBY hingga rencana kedatangan klub sepakbola Inggris, Manchester United, ke Indonesia dalam rangka pertandingan persahabatan. Namun dukungan politik itu seolah membuat Polri, BIN, dan TNI terkesan lengah.

Menguatnya dukungan politik dari AS, terakhir terkemas dalam ucapan selamat Presiden AS Barack Obama kepada SBY yang dinilai telah sukses melaksanakan pemilu, meskipun pasangan SBY-Boediono belum diresmikan menang oleh KPU.

"Bom ini kuat hubungannya dengan reaksi kalangan kaum radikal dan fundamentalis terhadap demokrasi dan SBY yang didukung AS dan negara Barat. Ditambah lagi dengan momentum lawatan Manchester United," kata Al Chaidar, pengamat terorisme dari FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Menurut dia, terorisme di Indonesia sangat kuat hubungannya dengan Amerika. Apa pun yang berkaitan dengan negara kapitalis tersebut akan dijadikan sasaran. Demokrasi, misalnya, adalah program ideologi Amerika Serikat dan sekutunya di mana pun, termasuk di Indonesia.

"Terhadap SBY, kalangan teroris sebenarnya memiliki resistensi yang tinggi. Bukan hanya karena isu Neoliberalisme, melainkan kemenangan SBY ini dianggap sebagai kemenangan AS di Indonesia, di mana lembaga-lembaga demokrasi AS dicurigai ikut berpartisipasi dalam pilpres Indonesia, seperti IFES dan lain-lain," tuturnya.

Dengan kata lain, bom ini jelas merupakan reaksi bagi kemenangan SBY sebagai presiden Indonesia yang akan melanjutkan pemerintah negeri ini hingga 2014.

Bom Kuningan ini, menurut Al Chaidar, adalah juga reaksi terhadap rencana kedatangan tim sepak bola MU ke Indonesia. "Bukan karena pilihan ketidaksukaan mereka terhadap oleh raga tertentu, melainkan karena yang dijadikan sasaran adalah orang asing (Inggris) yang dianggap sekutu AS," kata Al Chaidar.

Hal ini juga akan membuat teroris tidak tertarik untuk menyerang gedung olahraga Senayan, jika pertandingan sepak bola berlangsung. Bahkan pemimpin teroris dunia Osama Bin Laden sangat menyukai klub bola Arsenal dari Inggris.

Implikasi lain dari bom Marriot ini adalah bahwa kaum teroris menjadikan hotel JW Marriott sebagai sasaran tetap.

Pandangan Al Chaidar itu senada dengan pendapat Sydney Jones, dari International Crisis Group. "Hotel ini adalah lambang kehadiran kapitalisme dan liberalisme Amerika di mana pun, di Pakistan maupun di Indonesia. Yang ingin diserang teroris adalah simbol-simbol kapitalisme, demokrasi dan Neoliberalisme Amerika Serikat di mana pun ia berada," kata Sydney.

Para analis melihat, Indonesia adalah sasaran yang empuk bagi kaum teroris dan keberadaan mereka di Indonesia menjadi sangat nyaman karena negara ini merupakan fertile ground bagi gerakan-gerakan radikal. Dari pengakuan para tersangka tindak pidana terorisme Bom Bali 12 Oktober 2002, jelas terlihat sebuah ekspresi emosi keagamaan.

Ada suatu nilai yang bekerja dan mendikte jalan pikiran mereka. Ali Ghufron, salah seorang tersangka teror Bom Bali, misalnya, menyatakan bahwa pemboman itu adalah 'aksi pengabdian kepada Tuhan.' Maka Ali Ghufron, Imam Samudra, Amrozi, dan kelompoknya merasakan suatu delusion of grandeur, perasaan mendapatkan titah dan menjadi bagian dari unsur kebesaran yang berkeyakinan dirinya mengemban misi khusus dari Tuhan.

Prof Engseng Ho, antropolog dari Harvard University, AS, berpendapat kaum teroris senantiasa merasa diri sebagai 'pejuang Tuhan' yang tepanggil untuk bertindak atas nama Tuhan dan agama, menjadi 'tangan Tuhan' di muka bumi untuk merealisasikan 'kemurkaan-Nya' dalam sebentuk resistensi, pemboman.

"Akibat dari interpretasi dan ekspresi emosi keagamaan yang delusif ini, maka tragedi pun terjadi dan sejumlah besar spekulasi pun muncul di tengah-tengah publik,' kata Prof Engseng Ho.

Kaum teroris, kata Al Chaidar, bukanlah kelompok baru dalam dunia pergerakan radikal dan fundamentalis Indonesia. Kaum teroris adalah gabungan dari inti ajaran fundamentalis dan radikal yang bertemu dalam satu titik perencanaan perang melawan kezaliman.

"Di Indonesia, kelompok teroris ini berjumlah kecil. Pertama Jamaah Islamiyyah dan kedua Darul Islam, meski terbatas pada faksi tertentu. Mereka masih bergerak dengan model jaringan dan sel-sel yang aktif," ujar Al Chaidar.

Sehingga, sebagaimana ditemukan beberapa enklaf teroris di Palembang dan Jawa Tengah, semakin menunjukkan bahwa proliferasi kelompok ini berjalan dengan luas dan cepat. Indonesia yang lemah dan rawan di bawah Presiden SBY, akan terus menghadapi situasi teror ini di masa depan. [P1]
loading...

Artikel Terkait

Posting Terbaru