Tampilkan postingan dengan label Infeksi dan Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infeksi dan Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Maret 2010

Imunisasi

DEFINISI
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.

Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.


Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena keberhasilannya diragukan. Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.

Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV).

Reaksi yang mungkin terjadi:
  1. Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
  2. Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:
  • Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
  • Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.

Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.

Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.

Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.

DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.

Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:
- demam tinggi (lebih dari 40,5o Celsius)
- kejang
- kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
- syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.

1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.


Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL.

Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.


Imunisasi TT
Imunisasi Tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.

imunisasi difteri


Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.

Terdapat 2 macam vaksin polio:
  • IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
  • OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun). Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.

Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
- Diare berat,
- Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid), dan
- Kehamilan.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertingiu. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan.

Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.

IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.


Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.

Kontra indikasi pemberian vaksin campak:
- infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38o Celsius
- gangguan sistem kekebalan
- pemakaian obat imunosupresan
- alergi terhadap protein telur
- hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
- wanita hamil.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).


Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian.

Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.

Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli).

Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR. Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.

Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).

Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD. Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak.

Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan. Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.

Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin:
  • Komponen Campak
    1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,5o Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.
  • Komponen Gondongan
    Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan di bawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.
  • Komponen Campak Jerman
    Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR.
Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul).

Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini. Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa.

Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur di bawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi. Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.

Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:
- anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
- anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
- anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.
- wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

imunisasi campak


Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur 2, 4 dan 6 bulan.


Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.

Setiap anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.

Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular. Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal. Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat. Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup.

Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa:
- demam
- nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
- ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.

Efek samping yang lebih berat adalah:
- kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan
- pneumonia
- reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.
- ensefalitis
- penurunan koordinasi otot.

Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada:
- Wanita hamil atau wanita menyusui
- Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan
- Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut
- Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)
- Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid
- Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen darah lainnya
- Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima suntikan immunoglobulin.


Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap Hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan. Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.

Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (Hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan. Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).

Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih. Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu hamil. Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.


Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi Pneumokokus Konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah). Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat digunakan pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi pneumokokus.
Baca SelengkapnyaImunisasi
loading...

Kamis, 11 Maret 2010

Infeksi Hemophilus

DEFINISI
Infeksi Hemophilus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Hemophilus.


PENYEBAB
Bakteri Hemophilus tumbuh di dalam saluran pernafasan bagian atas pada anak-anak dan dewasa, tetapi jarang menyebabkan timbulnya penyakit. Spesies yang sering menyebabkan penyakit adalah Hemophilus influenzae.

Spesies ini bisa menyebabkan:
Infeksi tersebut bisa terjadi pada dewasa, tetapi lebih sering ditemukan pada anak-anak. Spesies Hemophilus lainnya bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan, infeksi jantung (endokarditis) dan abses otak. Hemophilus ducreyi menyebabkan cangkroid (penyakit menular seksual).


PENCEGAHAN
Untuk mencegah terjadinya meningitis, anak-anak secara rutin mendapatkan imunisasi dengan vaksin Hemophilus influenzae tipe b.
Baca SelengkapnyaInfeksi Hemophilus
loading...

Demam Gigitan Tikus

DEFINISI
Demam Gigitan Tikus merupakan infeksi yang disebabkan oleh 1 dari 2 bakteri yang berbeda, yang ditularkan melalui gigitan binatang pengerat. Lebih dari 10% gigitan tikus menyebabkan demam gigitan tikus. Penyakit ini terutama ditemukan diantara penduduk kampung Yahudi, gelandangan, dan pegawai laboratorium biomedik.

Wabah infeksi ini pernah dihubungkan dengan orang-orang yang meminum air yang tidak dipasteurisasi (dipanaskan/dimasak sampai 70o Celsius untuk memberantas kuman penyakit) dan susu yang terkontaminasi. Jika bakteri menyebar melalui cara seperti tersebut di atas, maka penyakitnya disebut demam Haverhill. Tetapi biasanya suatu infeksi terjadi setelah gigitan tikus atau mencit yang terinfeksi. Kadang-kadang infeksi ditularkan melalui tupai atau binatang pengerat lainnya.


SODOKU
Merupakan jenis demam gigitan tikus lainnya yang disebabkan oleh spiroketa Spirillum minus. Infeksi ini banyak ditemukan di Asia. Juga ditularkan melalui gigitan tikus atau kadang-kadang gigitan mencit.

Luka biasanya sembuh sempurna, tetapi peradangan terjadi dalam 4-28 hari setelah gigitan (biasanya lebih dari 10 hari). Peradangan disertai dengan demam yang hilang-timbul dan pembesaran kelenjar getah bening di daerah yang terkena. Kadang-kadang muncul bercak kemerahan.

Gejala lainnya berupa sakit kepala dan kelelahan yang timbul selama periode demam. Jika tidak diobati, demam akan muncul lagi setiap 2-4 hari selama 8 minggu dan kadang-kadang sampai selama 1 tahun.

Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya bakteri dalam darah. Atau bisa diambil contoh dari jaringan yang kemerahan atau dari kelenjar getah bening. Penisilin diberikan per-oral (melalui mulut) atau intravena (melalui pembuluh darah). Untuk penderita yang alergi terhadap penisilin bisa diganti dengan tetrasiklin.


PENYEBAB
Bakteri Streptobacillus moniliformis, yang merupakan bakteri yang hidup di mulut dan tenggorokan tikus sehat.

GEJALA
Luka awal biasanya sembuh sempurna. Tetapi dalam 1-22 hari setelah gigitan (biasanya kurang dari 10 hari), secara tiba-tiba timbul menggigil, demam, muntah-muntah, sakit kepala, sakit punggung, dan sakit sendi. Setelah 3 hari, muncul bercak kecil kemerahan di tangan dan kaki.

Pada beberapa penderita, terjadi pembengkakan sendi diikuti rasa sakit selama 1 minggu dan jika tidak diobati bisa terus berlangsung sampai beberapa hari atau beberapa bulan. Kadang bisa terjadi komplikasi serius berupa infeksi katup jantung dan abses otak atau jaringan lainnya.


DIAGNOSA
Untuk menemukan bakteri penyebabnya, dibuat biakan darah atau cairan sendi.


PENGOBATAN
Penisilin diberikan baik per-oral (melalui mulut) maupun intravena (melalui pembuluh darah). Untuk penderita yang alergi terhadap penisilin, bisa diganti dengan eritromisin.
Baca SelengkapnyaDemam Gigitan Tikus
loading...

Rabu, 10 Maret 2010

Gonore

DEFINISI
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva).

Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.


PENYEBAB
Bakteri Neisseria gonorrhoeae.


GEJALA
Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis. Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak.

Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita wanita seringkali tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam.

Infeksi bisa menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan rektum; menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Nanah yang keluar bisa berasal dari leher rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang vagina.

Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonore pada rektumnya. Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah di sekitar anus tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah. Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir dan cairan di dinding rektum penderita.

Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral sex) dengan seorang penderita gonore bias menyebabakan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.

Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata maka bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi baru lahir bisa terinfeksi oleh gonore dari ibunya selama proses persalinan, sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah.

Pada dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi seringkali hanya 1 mata yang terkena. Jika infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan.


KOMPLIKASI
Infeksi kadang menyebar melalui aliran darah ke 1 atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak dan sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Infeksi melalui aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah berisi nanah di kulit, demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya (sindroma artritis-dermatitis).

Bisa terjadi infeksi jantung (endokarditis). Infeksi pembungkus hati (perihepatitis) bisa menyebabkan nyeri yang menyerupai kelainan kandung empedu. Komplikasi yang terjadi bisa diatasi dan jarang berakibat fatal, tetapi masa penyembuhan untuk artritis atau endokarditis berlangsung lambat.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah, dimana ditemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium.

Jika diduga terjadi infeksi tenggorokan atau rektum, diambil contoh dari daerah ini dan dibuat biakan.


PENGOBATAN
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler (melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1 minggu (biasanya diberikan doksisiklin).

Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah, infus).
Baca SelengkapnyaGonore
loading...

Rabu, 24 Februari 2010

Leptospirosis

DEFINISI
Leptospirosis adalah sekelompok infeksi yang terdiri dari Sindroma Weil, Jaundice Spiroketal (sakit kuning) dan Demam Kanikola.


PENYEBAB
Bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi pada banyak binatang buas. Beberapa binatang bertindak sebagai pembawa dan mengeluarkan bakteri dalam air kemihnya (air kencing tikus), sedangkan yang lainnya bisa menjadi sakit dan mati. Manusia mendapatkan infeksi ini melalui kontak dengan binatang atau air kemihnya.

Meskipun leptospirosis merupakan penyakit karena pekerjaan pada petani, pekerja di tempat pemotongan hewan dan pekerja selokan (comberan), tetapi banyak orang-orang yang terinfeksi karena kegiatan tertentu seperti berenang di air yang terkontaminasi.


GEJALA
Gejala-gejala biasanya timbul dalam waktu 2-20 hari setelah terinfeksi bakteri. Biasanya penyakit dimulai secara tiba-tiba denagn adanya demam, sakit kepala, nyeri otot hebat dan menggigil. Gejala paru-paru (batuk darah) terjadi pada 10-15% penderita. Episode demam dan menggigil, yang sering mencapai 38,9?Celsius berlangsung selama 4-9 hari. Konjungtivitis (infeksi selaput bola mata dan kelopak mata) muncul pada hari ketiga atau keempat.

Demam akan menghilang selama beberapa hari, tetapi akan muncul lagi bersama-sama dengan gejala lainnya pada hari ke-6 atau ke-12. Pada saat ini, biasanya terjadi peradangan selaput otak (meningitis), menyebabkan kaku kuduk, sakit kepala dan kadang-kadang penurunan kesadaran (stupor atau koma).

Gejala-gejala ini bukan sebagai akibat dari infeksi pada selaput otak, tetapi merupakan akibat dari peradangan yang disebabkan oleh efek racun pada tubuh yang mencoba menghancurkan bakteri. Seorang wanita hamil yang terinfeksi leptospirosis bisa mengalami keguguran.


Sindroma Weil

Merupakan bentuk yang lebih berat dari leptospirosis yang menyebabkan demam yang terus menerus, penurunan kesadaran dan berkurangnya kemampuan darah untuk membeku sehingga terjadi perdarahan dalam jaringan. Gejala awal dari sindroma Weil lebih ringan dari leptospirosis.

Pemeriksaan darah menunjukkan adanya anemia. Pada kari ke-3 sampai hari ke-6, muncul tanda-tanda kerusakan ginjal dan hati. Penderita akan merasakan sakit saat berkemih atau air kemihnya berdarah. Kerusakan hati biasanya ringan dan akan sembuh total. Penderita yang tidak mengalami sakit kuning biasanya akan sembuh. Sakit kuning menunjukkan adanya gangguan hati dan akan meningkatkan resiko kematian sampai 10% pada penderita diatas 60 tahun.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya bakteri pada biakan darah, air kemih atau cairan serebrospinal; atau dengan ditemukannya antibodi terhadap bakteri di dalam darah.


PENGOBATAN
Bila terjadi wabah, bisa diberikan antibiotik doksisiklin untuk pencegahan. Untuk mengobati penyakitnya, diberikan penisilin, ampisilin atau antibiotik lainnya yang serupa. Pada kasus yang berat antibiotik diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah).


PENCEGAHAN
Penderita tidak perlu diisolasi, tetapi harus berhati-hati pada saat menangani dan membuang air kemihnya.
Baca SelengkapnyaLeptospirosis
loading...

Penyakit Lyme

DEFINISI
Penyakit Lyme adalah penyakit peradangan akut yang ditandai oleh perubahan kulit, peradangan sendi dan gejala yang menyerupai flu. Penyakit ini mulai dikenal pada tahun 1975, ketika sekumpulan kasus terjadi di dalam sekelompok orang di Lyme, Connecticut. Sejak saat itu, penyakit Lyme muncul di 47 negara bagian, juga dikenal di Eropa, Uni Soviet, Cina, Jepang dan Australia.

Penyakit Lyme biasanya terjadi pada saat musim panas dan awal musim gugur, lebih sering menyerang anak-anak dan dewasa muda yang tinggal di daerah perhutanan.


PENYEBAB
Bakteri Borrelia burgdorferi, yang biasanya ditularkan melalui kutu kecil pada rusa. Bakteri ini masuk ke kulit melalui gigitan kutu. Selelah 3-32 hari, bakteri keluar dari kulit dan menyebar melalui getah bening atau darah ke kulit lainnya atau ke organ lain.


GEJALA
Penyakit ini secara khas dimulai dengan adanya bintik merah yang lebar di kulit, biasanya di daerah paha, bokong, daerah yang tertutup celana pendek atau ketiak. Bintik ini akan melebar sampai diameter 15 cm. Sebanyak 75% penderita akan menunjukkan tanda awal ini. Hampir 50% penderita memiliki bintik yang lebih kecil setelah timbulnya bintik lebar ini.

Gejala lainnya berupa kelelahan, menggigil dan demam, sakit kepala, kaku kuduk dan sakit pada otot dan sendi. Gejala lainnya yang juga bisa timbul adalah nyeri punggung, mual dan muntah, nyeri tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening dan pembesaran limpa. Meskipun gejala-gejala tersebuti hilang timbul, tetapi rasa tidak enak badan dan kelelahan bisa menetap selama berminggu-minggu.

Beberapa minggu atau bulan setelah gejala pertama muncul, terjadi kelainan fungsi saraf pada sekitar 15% penderita, yang akan berlangsung beberapa bulan dan biasanya sembuh total. Masalah yang paling sering terjadi adalah infeksi selaput otak (meningitis), yang menyebabkan kaku kuduk, sakit kepala, peradangan saraf wajah dan kelumpuhan separuh wajah. Juga bisa terjadi kelumpuhan di tempat lain. Pada 8% penderita, terjadi kelainan jantung (aritmia dan perikarditis). Perikarditis bisa menyebabkan nyeri dada.

Selain itu, beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah gejala dimulai, 50% penderita mengalami artritis. Pada beberapa kasus, artritis timbul setelah 2 tahun. Episode pembengkakan dan nyeri pada beberapa sendi yang besar, terutama sendi lutut, akan terjadi secara berulang selama beberapa tahun. Lutut yang terkena biasanya bengkak, terasa panas jika disentuh dan kadang-kadang tampak merah. Dibalik lutut bisa terbentuk kista dan bisa pecah, sehingga rasa sakit akan menghebat secara tiba-tiba. Sekitar 10% penderita artritis Lyme akan memiliki masalah lutut yang menetap.


DIAGNOSA
Bakteri Borrelia burgdorferi sangat sulit dibiakkan di laboratorium dan tidak ada pemeriksaan yang dapat diandalkan untuk mendiagnosis penyakit Lyme. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang khas yang dialami seseorang yang telah terpapar oleh keadaan dimana infestasi kutu biasanya ditemukan, ditambah hasil dari beberapa pemeriksaan yang dilakukan.

Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah pengukuran kadar antibodi terhadap bakteri di dalam darah.


PENGOBATAN
Meskipun semua stadium penyakit Lyme memberikan respon terhadap pemberian antibiotik, tetapi pengobatan pada stadium awal adalah yang terbaik untuk membantu mencegah berbagai komplikasi. Antibiotik seperti doksisiklin, amoksisilin, penisilin atau eritromisin bisa diberikan per-oral (melalui mulut) selama stadium awal penyakit. Pemberian secara intravena (melalui pembuluh darah) dilakukan terhadap penderita stadium lanjut, penyakit yang berat atau menetap.

Antibiotik juga membantu mengurangi artritis, meskipun diperlukan pengobatan selama lebih dari 3 minggu. Untuk mengurangi sakit pada persendian yang bengkak bisa diberikan aspirin atau obat-obat anti peradangan non-steroid. Cairan yang terkumpul di sendi bisa didrainase (dibuang) dan penderita bisa dibantu dengan tongkat penyangga.
Baca SelengkapnyaPenyakit Lyme
loading...

Demam Kambuhan (Demam Kutu, Demam Berulang, Demam Kelaparan)

DEFINISI
Demam Kambuhan (Demam Kutu, Demam Berulang, Demam Kelaparan) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh beberapa spesies bakteri Borrelia.

Tergantung dari lokasi geografisnya, demam kambuhan ditularkan melalui kutu badan atau kutu anjing. Demam kambuhan yang ditularkan oleh tuma hanya ditemukan di beberapa daerah di Afrika dan Amerika Selatan, sedangkan demam kambuhan yang ditularkan kutu anjing ditemukan di Amerika Utara dan Selatan, Afrika, Asia dan Eropa. Di Amerika, penyakit ini biasanya ditemukan di perbatasan bagian barat, terutama antara bulan Mei dan September.


PENYEBAB
Bakteri Borrelia. Kutu badan terinfeksi oleh bakteri ini pada saat mengisap darah penderita. Infeksi bisa menyebar kepada manusia yang lain jika kutu berpindah tempat tinggalnya. Jika kutu tergilas, bakteri dikeluarkan dan memasuki kulit yang sudah digaruk atau digigit. Kutu anjing terinfeksi karena mengisap darah dari hewan pengerat, yang merupakan rumah alaminya. Infeksi menular kepada manusia melalui gigitan kutu.


GEJALA
Gejala-gejala akan timbul dalam waktu 3-11 hari setelah terinfeksi. Gejala awal berupa menggigil yang muncul secara tiba-tiba, diikuti demam tinggi, denyut jantung yang cepat, nyeri kepala hebat, muntah-muntah, nyeri sendi dan otot dan sering terjadi penurunan kesadaran.

Pada stadium awal, bisa timbul kemerahan di daerah yang tertutup celana pendek, lengan dan tungkai. Dokter bisa melihat adanya pembuluh darah yang pecah pada lapisan yang menutupi bola mata dan pada kulit serta selaput lendir.

Sejalan dengan berkembangnya penyakit, bisa timbul demam, sakit kuning, pembesaran hati dan limpa, peradangan jantung dan gagal jantung; terutama pada infeksi yang ditularkan tuma. Demam tetap tinggi selama 3-5 hari, kemudian bersamaan gejala lainnya akan menghilang secara tiba-tiba.

Setelah 7-10 hari, demam dan gejala lainnya kembali muncul secara tiba-tiba, sering disertai dengan nyeri sendi. Sakit kuning sering timbul pada saat demam kambuh. Demam kambuhan yang ditularkan tuma biasanya disertai oleh kambuhan tunggal, sedangkan kambuhan yang multipel (2-10 kali dengan jarak 1-2 minggu) terjadi pada demam kambuhan yang ditularkan oleh kutu anjing. Periode demam secara bertahap akan berkurang, dan akhirnya penderita akan sembuh sejalan dengan terbentuknya kekebalan.

Adapun komplikasi dari penyakit ini adalah peradangan mata, asma dan eritema multiformis (erupsi kemerahan) di seluruh tubuh. Peradangan juga bisa mengenai otak, medulla spinalis dan iris mata. Wanita hamil bisa mengalami keguguran.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya pola demam yang berulang. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan terhadap contoh darah selama periode demam dan akan ditemukan bakteri penyebabnya.


PENGOBATAN
Infeksi bisa disembuhkan dengan antibiotik tetrasiklin, eritromisin atau doksisiklin. Biasanya diberikan per-oral (melalui mulut), tetapi bisa juga diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) jika terjadi muntah-muntah yang berat yang membuat penderita sulit menelan.

Untuk mencapai hasil yang optimal, pengobatan harus dimulai pada stadium awal demam atau selama suatu interval yang tanpa gejala. Pengobatan yang dimulai pada akhir dari suatu periode demam, bisa memicu terjadinya reaksi Jarisch-Herxheimer, dimana demam yang sangat tinggi disertai tekanan darah yang turun-naik (kadang sampai tekanan rendah yang berbahaya). Reaksi ini sangat khas dan kadang berakibat fatal.

Dehidrasi diobati dengan cairan yang diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). Nyeri kepala hebat diobati dengan obat pereda nyeri, seperti kodein. Untuk mual-mual bisa diberikan dimenhidrinat atau proklorperazin.


PENCEGAHAN
Membersihkan kotoran pada pakaian dalam dan bagian dalam baju dengan malation dan bedak lindan, akan memberikan perlindungan terhadap demam kambuhan yang disebabkan oleh kutu badan.

Gigitan kutu anjing lebih sulit dicegah karena kebanyakan insektisida dan repelen tidak efektif mengatasi kutu. Tetapi bahan kimia yang mengandung dietil-tolu-amid untuk kulit dan permetrin untuk baju, bisa membantu melindungi terhadap gigitan kutu anjing.
Baca SelengkapnyaDemam Kambuhan (Demam Kutu, Demam Berulang, Demam Kelaparan)
loading...

Treponematosis

DEFINISI
Treponematosis adalah infeksi non-venereal (bukan penyakit kelamin) yang disebabkan oleh spiroketa yang tidak dapat dibedakan dari Treponema pallidum (bakteri penyebab sifilis).

Treponematosis merupakan infeksi yang ditemukan di daerah tertentu, seperti daerah endemik untuk sifilis, frambusia dan pinta. Daerah endemik sifilis ada di negara-negara gurun pasir di Mediterania timur dan Afrika Barat. Frambusia terjadi di negara-negara khatulistiwa yang lembab. Pinta biasa ditemukan pada orang Indian di Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.


PENYEBAB
Bakteri Treponema.


GEJALA
SIFILIS ENDEMIK (BEJEL)
Penyakit ini mulai timbul pada masa kanak-kanak, yaitu berupa bercak tipis di dalam pipi yang diikuti oleh munculnya lepuhan di daerah yang tertutup celana pendek, lengan dan kaki. Biasanya akan mengenai tulang kaki. Pada stadium yang lebih lanjut, benjolan lembut dan kenyal muncul di hidung dan langit-langit lunak mulut.

FRAMBUSIA (YAWS)
Timbul setelah beberapa mingggu terpapar oleh bakteri Treponema, berupa luka yang agak menonjol pada tempat yang terkena infeksi, biasanya di tungkai. Pada saat luka ini sembuh, muncul jaringan lunak seperti tumor (granuloma) di muka, lengan, tungkai dan bokong. Granuloma ini sembuh lambat dan bisa kambuh lagi. Luka terbuka yang terasa nyeri bisa timbul di telapak kaki (frambusia kepiting). Selanjutnya, daerah tulang kering bisa mengalami kerusakan dan banyak pertumbuhan jelek lainnya terjadi, terutama di sekitar hidung (ganggosa).

PINTA
Berawal sebagai area kemerahan yang datar pada tangan, kaki, tungkai, lengan, muka dan leher. Setelah beberapa bulan, bercak biru timbul di daerah yang sama di kedua sisi badan dan diatas daerah bertulang (misalnya sikut). Selanjutnya bercak tersebut warnanya memudar. Pada bercak di telapak tangan dan telapak kaki bisa terjadi penebalan kulit.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang khas dari seseorang yang tinggal di daerah dimana penyakit ini biasa ditemukan. Penderita treponematosis akan memberi hasil positif pada pemeriksaan untuk penyakit kelamin. Tetapi pemeriksaan ini tidak dapat membedakan infeksi bukan-penyakit kelamin dengan sifilis.


PENGOBATAN
Lukanya bersifat merusak dan meninggalkan jaringan parut. Suntikan tunggal penisilin bisa membunuh bakteri, sehingga kulit bisa sembuh.
Baca SelengkapnyaTreponematosis
loading...

Infeksi Neisseria

DEFINISI
Neisseria menigitidis (meningokokus) merupakan bakteri kokus gram negatif yang secara alami hidup di dalam tubuh manusis. Meningokokus bisa menyebabkan infeksi pada selaput yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang (meningitis), infeksi darah dan infeksi berat lainnya pada dewasa dan anak-anak.

Neisseria gonorhoeae, juga merupakan kokus gram negatif alami pada manusia, yang menyebabkan gonore, suatu penyakit menular seksual yang bisa mengenai uretra, vagina dan anus dan bisa menjalar ke sendi.

Banyak spesies Neisseria yang secara normal hidup di tenggorokan dan mulut, vagina dan usus, tetapi mereka jarang menyebabkan infeksi.Neisseria menigitidis (meningokokus) merupakan bakteri kokus gram negatif yang secara alami hidup di dalam tubuh manusia. Meningokokus bisa menyebabkan infeksi pada selaput pembungkus otak dan medulla spinalis (meningitis), infeksi darah dan infeksi berat lainnya pada dewasa dan anak-anak.

Neisseria gonorhoeae, juga merupakan kokus gram negatif alami pada manusia, yang menyebabkan gonore, suatu penyakit menular seksual yang bisa mengenai uretra, vagina dan anus dan bisa menjalar ke sendi. Banyak spesies Neisseria yang secara normal hidup di tenggorokan dan mulut, vagina dan usus, tetapi mereka jarang menyebabkan infeksi.
Baca SelengkapnyaInfeksi Neisseria
loading...

Selasa, 23 Februari 2010

Infeksi Pneumokokus

DEFINISI
Infeksi Pneumokokus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus pneumoniae. Pneumokokus biasanya hidup di saluran pernafasan bagian atas manusia, merupakan tuan rumah alami, terutama selama musim dingin dan musim semi. Pneumokokus kadang-kadang menyebabkan pneumonia. Karena pnemonia pneumokok jarang menular dari orang ke orang, penderita tidak perlu menghindar dari kontak dengan orang lain. Pneumokokus juga menyebabkan infeksi otak, telinga dan organ lainnya.


PENYEBAB
Bakteri gram positif Streptococcus pneumoniae.

Orang-orang yang beresiko menderita pneumonia pneumokok adalah:
- penderita penyakit menahun
- penderita gangguan sistem kekebalan, seperti penderita penyakit Hodgkin, limfoma dan penyakit sel sabit
- seseorang yang limpanya telah diangkat atau limpanya tidak berfungsi, karena antibodi yang dihasilkan oleh limpa secara normal membantu mencegah infeksi pneumokokus.

Pneumonia pneumokok juga bisa timbul setelah bronkitis menahun atau jika suatu infeksi virus (virus influenza), merusak lapisan saluran pernafasan.


GEJALA
Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh pneumokokus:
  1. Pneumonia
    - Mungkin merupakan infeksi yang paling serius yang disebabkan oleh pneumokokus
    - Biasanya mengenai salah satu lobus paru-paru, tetapi bisa menjalar ke lobus yang lainnya
  2. Empiema torasik (infeksi pada pleura yang mengelilingi paru-paru)
    - Pneumokokus merupakan penyebab paling sering dari infeksi penghasil nanah ini
    - Mungkin perlu dilakukan pengaliran nanah (drainase) melalui pembedahan
  3. Otitis media (infeksi telinga tengah)
    - 50% kasus pada bayi dan anak-anak penyebabnya adalah pneumokokus
    - Jika tidak diobati, infeksi bisa menjalar ke sinus, tulang mastoid dan selaput otak dan medulla spinalis
  4. Meningitis bakterialis (infeksi selaput otak dan medulla spinalis)
    - Pneumokokus merupakan penyebab paling sering di semua kelompok umur
    - Bisa berasal dari darah atau infeksi paru-paru, infeksi pada tulang tengkorak (mastoiditis) atau patah tulang tengkorak
  5. Bakteremia (infeksi darah)
    - Bisa berasal dari pneumonia atau meningitis dan menyebar ke katup jantung
  6. Endokarditis pneumokokus (infeksi katup jantung)
    - Bisa sangat berbahaya karena bakteri atau debrisnya menumpuk di katup jantung menyebabkan kerusakan
    - Pada kasus yang berat, bisa berakhir dengan kegagalan jantung
  7. Peritonitis (infeksi pada rongga perut)
    - Biasanya terjadi pada wanita muda karena penyebaran infeksi vagina melalui saluran indung telur ke rongga perut
    - Bisa terjadi pada penderita sirosis
  8. Artritis pneumokokus
    - Jarang menyebabkan infeksi sendi
    - Biasanya terjadi bersamaan dengan endokarditis atau meningitis.

PENGOBATAN
Obat pilihan untuk infeksi pneumokokus adalah penisilin. Untuk infeksi sinus dan telinga diberikan per-oral (melalui mulut) dan untuk infeksi yang lebih serius diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah).


PENCEGAHAN
Suatu vaksin pneumokokus yang sangat efektif bisa diberikan pada usia diatas 2 tahun. Vaksin akan melindungi terhadap jenis pnemokokus yang paling umum dan mengurangi peluang untuk terjadinya pnemonia pneumokok dan bakteremia sebanyak 80% dan mengurangi angka kematian sampai 40%.

Vaksin juga bisa diberikan kepada orang yang lebih tua dan kepada penderita penyakit jantung dan paru-paru menahun, infeksi HIV atau kelainan metabolisme. Vaksin juga akan membantu pada anak-anak dengan penyakit sel sabit yang limpanya telah diangkat atau sudah tidak berfungsi lagi.
Baca SelengkapnyaInfeksi Pneumokokus
loading...

Infeksi Streptokokus

DEFINISI
Infeksi Streptokokus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus.


PENYEBAB
Bakteri gram positif streptokokus.

Bakteri streptokokus penyebab penyakit pada manusia dikelompokkan menjadi 4 grup:
  1. Streptokokus grup A : paling mematikan meskipun manusia adalah tuan rumah alaminya. Streptokokus ini bisa menyebabkan infeksi tenggorokan, tonsilitis (infeksi amandel), infeksi kulit, septikemia (infeksi dalam darah), demam Scarlet, pneumonia, demam rematik, korea Sydenham (kelainan saraf yang ditandai oleh kekakuan otot/St. Vitu's dance) dan peradangan ginjal (glomerulonefritis).
  2. Streptokokus grup B : lebih sering menyebabkan infeksi yang berbahaya pada bayi baru lahir (sepsis neonatorum), infeksi pada sendi (artritis septik), dan pada jantung (endokarditis).
  3. Streptokokus grup C dan G : sering terdapat pada binatang, tetapi bisa juga hidup di dalam tubuh manusia, yaitu di tenggorokan, usus, vagina, dan kulit. Streptokokus ini bisa menyebabkan infeksi yang berat seperti infeksi tenggorokan, pneumonia, infeksi kulit, sepsis post-partum (setelah melahirkan) dan sepsis neonatorum, endokarditis, dan artritis septik. Setelah terinfeksi oleh bakteri ini bisa juga terjadi peradangan ginjal.
  4. Streptokokus grup D dan enterokokus : dalam keadaan normal hidup di saluran pencernaan bagian bawah, vagina, dan kulit. Bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi pada luka dan katup jantung, kandung kemih, perut dan darah.

GEJALA
Infeksi streptokokus yang paling sering ditemukan adalah infeksi tenggorokan (Strep throat). Gejalanya muncul secara tiba-tiba, seperti nyeri tenggorokan, merasa tidak enak badan, demam, menggigil, nyeri kepala, mual, muntah, dan denyut jantung yang meningkat. Tenggorokan tampak merah, amandel membengkak dan kelenjar getah bening di leher membesar.

Anak-anak bisa mengalami kejang. Sedangkan pada anak berusia kurang dari 4 tahun, gejalanya hanya berupa hidung meler. Batuk, laringitis (peradangan laring), dan hidung tersumbat, tidak biasa ditemukan pada infeksi streptokokus. Gejala-gejala ini lebih mengarah kepada sebab lain seperti pilek atau alergi.

Demam Scarlet yang disebabkan toksin/racun bisa menimbulkan ruam kemerahan yang meluas. Ruam tampak jelas di daerah perut, dada, dan lipatan kulit. Gejala lain berupa daerah pucat di sekitar mulut, muka kemerahan, lidah kemerahan, dan garis-garis merah gelap di lipatan kulit. Setelah demam reda, lapisan luar dari kulit yang memerah sering mengelupas.

Streptokokus juga menyebabkan beberapa jenis infeksi kulit yang jarang menimbulkan abses. Infeksinya cenderung menyebar ke lapisan dalam di bawah kulit, menyebabkan selulitis dan kadang-kadang erupsi kulit kemerahan yang disebut erisipelas (St. Anthony's fire).

Streptokokus, dengan atau tanpa stafilokokus, juga bisa menyebar melalui lapisan atas kulit menimbulkan impetigo (erupsi krusta berkeropeng). Jenis streptokokus tertentu bisa dengan cepat menyebabkan infeksi yang luas dan bersifat destruktif pada kulit (fasitis nekrotisasi).


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan diperkuat oleh hasil biakan dari area yang terinfeksi. Setelah 24 jam, biakan akan menunjukkan koloni bakteri yang khas. Untuk mendiagnosa infeksi tenggorokan, biakan diambil dengan menggoreskan kain steril di bagian belakang tenggorokan. Lalu dimasukkan ke dalam cawan petri dan dibiarkan semalam.


PENGOBATAN
Penderita strep throat dan demam scarlet akan pulih tanpa pengobatan dalam waktu 2 minggu. Antibiotik dapat memperpendek lamanya gejala pada anak-anak dan mencegah komplikasi yang serius seperti demam rematik. Antibiotik juga membantu mencegah penyebaran infeksi ke telinga tengah, sinus dan tulang mastoid. Biasanya penisilin V per-oral harus segera diberikan pada saat gejala-gejala penyakit ini timbul.

Infeksi streptokokus lainnya seperti selulitis, fasitis nekrotisasi dan endokarditis, sangat serius dan memerlukan terapi penisilin intravena, kadang-kadang dikombinasi dengan antibiotik lainnya. Streptokokus grup A biasanya bisa diatasi dengan penisilin. Beberapa Streptokokus grup D dan terutama enterokokus, resisten terhadap penisilin dan kebanyakan antibiotik; tidak ada pengobatan antibiotik andalan untuk enterokokus.

Gejala-gejala seperti demam, nyeri kepala, dan nyeri tenggorokan dapat diobati dengan obat pereda nyeri (analgetik) dan penurun panas (antipiretik) seperti asetaminofen. Penderita perlu menjalani tirah baring dan isolasi.
Baca SelengkapnyaInfeksi Streptokokus
loading...

Sindroma Syok Toksik

DEFINISI
Sindroma Syok Toksik adalah suatu infeksi yang biasanya disebabkan oleh stafilokokus, yang dengan cepat keadaannya akan semakin memburuk menjadi syok yang tidak dapat diatasi.


PENYEBAB
Bakteri stafilokokus. Meskipun jenis stafilokokus yang menyebabkan kasus ini diketahui, tapi pemicu terjadinya sindroma ini belum diketahui. Pemakaian tampon dapat mendorong bakteri untuk menghasilkan toksin (racun) yang masuk ke dalam aliran darah melalui luka kecil di vagina atau melalui rahim menuju ke rongga perut. Toksin inilah yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala dari penyakit ini.


GEJALA
Gejala timbul secara tiba-tiba dimana suhu mencapai 39-40 derajat Celcius. Selanjutnya akan timbul nyeri kepala hebat, sakit tenggorokan, mata merah, kelelahan yang luar biasa, bingung, muntah, diare dan ruam kulit seperti terbakar sinar matahari di seluruh tubuh. Dalam waktu 48 jam, penderita tidak sadarkan diri dan jatuh ke dalam keadaan syok.

Antara hari pertama dan ke tujuh, terjadi pengelupasan kulit, terutama pada telapak tangan dan telapak kaki. Sindroma ini menyebabkan anemia. Gangguan ginjal, hati dan otot sangat sering terjadi, terutama pada mingu pertama. Bisa juga disertai gangguan jantung dan paru-paru. Kebanyakan organ-organ tubuh tersebut sembuh seperti semula setelah gejala-gejalanya menghilang.


DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Meskipun tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat secara spesifik mengidentifikasi sindroma ini, pemeriksaan darah biasanya dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan lain yang menjadi penyebab sindroma ini.


PENGOBATAN
Penderita yang dicurigai mengalami sindroma syok toksik harus segera dirawat.
Pengobatan dimulai dengan mencabut tampon, diafragma atau benda asing lainnya, dan diberikan antibiotik sesegera mungkin.


PENCEGAHAN
Secara umum, wanita harus menghindari penggunaan tampon yang terus menerus selama masa haid. Bila kembali menggunakan tampon dalam waktu 4 bulan setelah mengalami sindroma ini, kemungkinan akan kambuh kembali, kecuali terapi antibiotik yang diberikan sudah berhasil menghancurkan bakteri penyebabnya.
Baca SelengkapnyaSindroma Syok Toksik
loading...

Infeksi Stafilokokus

DEFINISI
Infeksi Stafilokokus adalah infeksi-infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif Staphyloccus.


PENYEBAB
Bakteri stafilokokus gram positif dalam keadaan normal ditemukan di hidung dan kulit pada 20-30% orang dewasa. Bisa juga ditemukan di mulut, kelenjar susu, saluran kemih dan kelamin, saluran pencernaan dan saluran pernafasan bagian atas. Stafilokokus kebanyakan tidak berbahaya, tetapi luka di kulit atau luka lainnya bisa menyebabkan bakteri menyusup ke dalam pertahanan tubuh manusia dan menyebabkan infeksi.

Orang-orang yang cenderung mengalami infeksi stafilokokus adalah orang-orang yang cenderung mengalami infeksi stafilokokus adalah :
- bayi baru lahir
- ibu menyusui
- penderita penyakit kronis (terutama penyakit paru-paru, diabetes dan kanker)
- penderita kelainan kulit dan luka bedah
- penderita yang mendapat terapi kortikosteroid, radiasi, obat-obat imunosupresan atau obat anti-kanker.


GEJALA
Gejala-gejala yang timbul tergantung dari lokasi infeksi. Infeksinya mungkin ringan atau bahkan bisa berakibat fatal. Biasanya infeksi stafilokokus menyebabkan terbentuknya suatu kantung berisi nanah, yaitu abses dan bisul (furunkel & karbunkel). Stafilokokus dapat menyebar melalui pembuluh darah dan menyebabkan abses pada organ dalam (seperti paru-paru), tulang (osteomielitis) dan lapisan dalam dari jantung dan katupnya (endokarditis).

Stafilokokus cenderung menginfeksi kulit. Absesnya pada kulit berupa kantung berisi nanah yang terasa hangat dibawah permukaan kulit. Abses biasanya pecah dan nanah akan mengalir di atas kulit, yang apabila tidak dibersihkan akan mengakibatkan infeksi lebih lanjut.

Stafilokokus juga dapat menyebabkan selulitis (suatu infeksi dibawah kulit). Biasanya bisul juga terjadi karena stafilokokus. Dua macam infeksi stafilokokus kulit yang cukup serius adalah Nekrolitik epidermal toksik dan Sindroma kulit terbakar (Scalded skin syndrome), yang bisa menimbulkan pengelupasan kulit yang meluas.

Bayi baru lahir biasanya mengalami infeksi kulit stafilokokus dalam waktu 6 minggu setelah lahir. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kulit seperti melepuh yang berisi nanah di daerah lipatan lengan, kelamin dan lipatan leher. Infeksi stafilokokus yang lebih berat bisa menyebabkan banyak abses, pengelupasan kulit yang luas, infeksi darah, infeksi selaput otak dan medula spinalis (meningitis) serta pneumonia.

Ibu menyusui bisa mengalami infeksi payudara oleh stafilokokus (mastitis) dan abses dalam waktu 1-4 minggu setelah melahirkan. Beberapa diantaranya sering merupakan infeksi dari bayi yang ditularkan kepada ibunya pada saat menyusui.

Infeksi yang paling berat adalah pneumonia, yang merupakan resiko bagi penderita penyakit paru menahun (seperti bronkitis kronis dan emfisema) dan influenza. Sering menyebabkan demam tinggi dan gejala-gejala paru-paru yang berat seperti sesak nafas, pernafasan cepat dan batuk produktif yang dahaknya mungkin saja berdarah. Pada bayi baru lahir dan kadang-kadang pada dewasa juga, peumonia stafilokokus bisa menyebabkan abses paru dan infeksi pleura (lapisan disekeliling paru-paru). Infeksinya disebut empiema torak, yang memperburuk gangguan pernafasan.

Meskipun suatu infeksi stafilokokus dalam darah (bakteremia stafilokokus) sering terjadi akibat infeksi di tempat lain, tapi biasanya timbul akibat pengggunaan alat intravena seperti kateter. Bakteremia stafilokokus sering menjadi penyebab kematian pada penderita luka bakar berat. Ciri yang khas adalah pada bakteremia adalah panas yang timbul bersifat menetap dan kadang-kadang terjadi syok.

Adanya stafilokokus dalam aliran darah bisa menyebabkan infeksi di lapisan dalam dari jantung dan katupnya (endokarditis), terutama pada pengguna obat suntik. Infeksi dengan segera menyebabkan kerusakan katup, sehingga terjadi gagal jantung dan kematian.

Infeksi tulang (osteomielitis) terutama menyerang anak-anak, walaupun juga menyerang orang yang lebih dewasa, terutama mereka yang menderita ulkus kulit yang dalam (luka baring, bedsore). Gejalanya berupa demam, menggigil dan nyeri tulang. Bengkak dan kemerahan akan tampak di atas tulang yang terkena dan dalam sendi di sekitar daerah yang terinfeksi akan terbentuk cairan. Kadang pemeriksaan radiasi dan pemeriksaan radiologis lainnya dapat menunjukkan daerah yang terkena infeksi, tapi secara umum tidak membantu dalam menegakkan diagnosis awal.

Suatu infeksi usus dari stafilokokus sering menyebabkan demam, kembung dan distensi abdomen, gerakan kontraktil normal dari usus terhenti sementara (ileus) serta diare. Sering terjadi pada pasen yang dirawat di rumah sakit, terutama setelah menjalani operasi atau pengobatan antibiotik.

Pembedahan meningkatkan resiko infeksi stafilokokus yang bisa mengarah ke terbentuknya abses pada luka jahitan atau menyebabkan kerusakan pada luka sayatan. Beberapa infeksi timbul beberapa hari sampai beberapa minggu setelah pembedahan tetapi bisa timbul lebih lambat pada orang yang mendapat terapi antibiotik setelah pembedahan. Infeksi ini bisa memburuk dan berlanjut menjadi sindroma syok toksik.


PENGOBATAN
Untuk kebanyakan infeksi kulit, cukup diberikan antibiotik oral seperti kloksasilin, dikloksasilin dan eritromisin. Untuk infeksi yang lebih berat, terutama infeksi darah, diperlukan antibiotik intravena, bahkan sampai selama 6 minggu.

Pemilihan antibiotik tergantung dari daerah yang terkena infeksi, berat-ringannya gejala dan antibiotik mana yang efektif membunuh bakteri tertentu. Staphylococcus aureus yang resisten terhadap metisilin, juga resisten terhadap hampir semua antibiotik yang biasa digunakan dan memerlukan perhatian khusus karena bakteri ini banyak ditemukan di kota besar dan rumah sakit. Antibiotik yang efektif adalah vankomisin dan trimetoprim-sulfametoksazol. Vankomisin akan membunuh bakterinya, sedangkan Untuk kebanyakan infeksi kulit, cukup diberikan antibiotik oral seperti kloksasilin, dikloksasilin dan eritromisin.
Untuk infeksi yang lebih berat, terutama infeksi darah, diperlukan antibiotik intravena, bahkan sampai selama 6 minggu.

Pemilihan antibiotik tergantung dari daerah yang terkena infeksi, berat-ringannya gejala dan antibiotik mana yang efektif membunuh bakteri tertentu. Staphylococcus aureus yang resisten terhadap metisilin, juga resisten terhadap hampir semua antibiotik yang biasa digunakan dan memerlukan perhatian khusus karena bakteri ini banyak ditemukan di kota besar dan rumah sakit. Antibiotik yang efektif adalah vankomisin dan trimetoprim-sulfametoksazol mencegah kemampuan bakteri untuk berkembang biak.

Suatu abses yang timbul harus didrainase (dikeluarkan isinya, dikeringkan). Drainase pada kulit relatif sederhana, yaitu dengan membuat sayatan kecil kemudian menekannya sehingga cairannya keluar. Sedangkan untuk abses yang lebih dalam mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Baca SelengkapnyaInfeksi Stafilokokus
loading...

Tetanus

DEFINISI
Tetanus (lockjaw) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Disebut juga lockjaw karena terjadi kejang pada otot rahang. Tetanus banyak ditemukan di negara-negara berkembang.


PENYEBAB
Bakteri an-aerob Clostridium tetani. Spora dari Clostridium tetani dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal. Setelah proses persalinan, bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tetanus neonatorum).

Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.


GEJALA
Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang. Gejala lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai.

Penderita bisa mengalami kesulitan dalam membuka rahangnya (trismus). Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.

Gangguan-gangguan yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, bisa memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan. Selama kejang seluruh tubuh terjadi, penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang tenggorokan. Hal tersebut juga menyebabkan gangguan pernafasan sehingga terjadi kekurangan oksigen.

Biasanya tidak terjadi demam. Laju pernafaan dan denyut jantung serta refleks-refleks biasanya meningkat. Tetanus juga bisa terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka ini bisa menetap selama beberapa minggu.


DIAGNOSA
Diduga suatu tetanus jika terjadi kekakuan otot atau kejang pada seseorang yang memiliki luka. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan bakteri dari apusan luka.


PENGOBATAN
Untuk menetralisir racun, diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik tetrasiklintetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut.

Obat lainnya bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang dan mengendurkan otot-otot. Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan. Makanan diberikan melalui infus atau selang nasogastrik. Untuk membuang kotoran, dipasang kateter. Penderita sebaiknya berbaring bergantian miring ke kiri atau ke kanan dan dipaksa untuk batuk guna mencegah terjadinya pneumonia.

Untuk mengurangi nyeri diberikan kodein. Obat lainnya bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.


PROGNOSIS

Tetanus memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian biaanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua dan pemakai obat suntik. Jika gejalanya memburuk dengan segera atau jika pengobatan tertunda, maka prognosisnya buruk.


PENCEGAHAN
Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Dewasa sebaiknya menerima booster.

Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
  • Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
  • Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi
  • Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.
Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.
Baca SelengkapnyaTetanus
loading...

Demam Tifoid

DEFINISI
Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.


PENYEBAB
Bakteri Salmonella typhi.



Bakteri tifoid ditemukan di dalam tinja dan air kemih penderita. Penyebaran bakteri ke dalam makanan atau minuman bisa terjadi akibat pencucian tangan yang kurang bersih setelah buang air besar maupun setelah berkemih. Lalat bisa menyebarkan bakteri secara langsung dari tinja ke makanan.

Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah. Hal ini akan diikuti oleh terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar. Pada kasus yang berat, yang bisa berakibat fatal, jaringan yang terkena bisa mengalami perdarahan dan perforasi (perlubangan).

Sekitar 3% penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi dan belum mendapatkan pengobatan, di dalam tinjanya akan ditemukan bakteri ini selama lebih dari 1 tahun. Beberapa dari pembawa bakteri ini tidak menunjukkan gejala-gejala dari demam tifoid.


GEJALA
Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8-14 hari setelah terinfeksi. Gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut. Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta perdarahan dari hidung.

Jika pengobatan tidak dimulai, maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2-3 hari, yaitu mencapai 39,4-40?Celsius selama 10-14 hari. Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ketiga dan kembali normal pada minggu keempat. Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa.

Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma. Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari.


KOMPLIKASI

Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi, terutama pada penderita yang tidak diobati atau bila pengobatannya terlambat:
  • Banyak penderita yang mengalami perdarahan usus; sekitar 2% mengalami perdarahan hebat. Biasanya perdarahan terjadi pada minggu ketiga.

  • Perforasi usus terjadi pada 1-2% penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi ronga perut (peritonitis).

  • Pneumonia bisa terjadi pada minggu kedua atau ketiga dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun bakteri tifoid juga bisa menyebabkan pneumonia).

  • Infeksi kandung kemih dan hati.

  • Infeksi darah (bakteremia) kadang menyebabkan terjadinya infeksi tulang (osteomielitis), infeksi katup jantung (endokarditis), infeksi selaput otak (meningitis), infeksi ginjal (glomerulitis) atau infeksi saluran kemih-kelamin. Pada sekitar 10% kasus yang tidak diobati, gejala-gejala infeksi awal kembali timbul dalam waktu 2 minggu setelah demam mereda.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.


PENGOBATAN
Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol Kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan. Jika terjadi perforasi usus, diberikan antibiotik berspektrum luas (karena berbagai jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga perut) dan mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami perforasi.


PENCEGAHAN
Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%. Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para pelancong).

Para pelancong sebaiknya menghindari makan sayuran mentah dan makanan lainnya yang disajikan atau disimpan di dalam suhu ruangan. Sebaiknya mereka memilih makanan yang masih panas atau makanan yang dibekukan, minuman kaleng dan buah berkulit yang bisa dikupas.
Baca SelengkapnyaDemam Tifoid
loading...

Infeksi HIV

DEFINISI
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh.

Pada awal tahun 1980, para peneliti menemukan peningkatan mendadak dari 2 jenis penyakit di kalangan kaum homoseksual di Amerika. Kedua penyakit itu adalah sarkoma Kaposi (sejenis kanker yang jarang terjadi) dan pneumonia pneumokista (sejenis pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan).

Kegagalan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan timbulnya 2 jenis penyakit yang jarang ditemui ini sekarang dikenal dengan AIDS. Kegagalan sistem kekebalan juga ditemukan pada para pengguna obat-obatan terlarang yang disuntikkan, penderita hemofilia, penerima transfusi darah dan pria biseksual. Beberapa waktu kemudian sindroma ini juga mulai terjadi pada heteroseksual yang bukan pengguna obat-obatan, bukan penderita hemofilia dan tidak menerima transfusi darah.

AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000 orang terjangkit dan 300.000 meninggal sampai bulan Oktober 1995. WHO memperkirakan 30-40 juta penduduk dunia akan terinfeksi HIV pada tahun 2000.


PENYEBAB
Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat.


PERJALANAN PENYAKIT
Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.

Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.

Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun:
  1. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
  2. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
  3. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS.

Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.


PENULARAN
Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau partikel virus. Yang dimaksud dengan cairan tubuh disini adalah darah, semen, cairan vagina, cairan serebrospinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil, virus juga terdapat di dalam air mata, air kemihi dan air ludah.

HIV ditularkan melalui cara-cara berikut:
  • Hubungan seksual dengan penderita, dimana selaput lendir mulut, vagina atau rektum berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi
  • Suntikan atau infus darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfusi darah, pemakaian jarum bersama-sama atau tidak sengaja tergores oleh jarum yang terkontaminasi virus HIV
  • Pemindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses kelahiran atau melalui ASI.
Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika kulit atau selaput lendir robek atau rusak, seperti yang bisa terjadi pada hubungan seksual yang kasar, baik melalui vagina maupun melalui anus. Penelitian menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang menderita herpes, sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, yang mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit. Penularan juga bisa terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut), walaupun lebih jarang.

Virus pada penderita wanita yang sedang hamil bisa ditularkan kepada janinnya pada awal kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir). Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV bisa tertular melalui ASI. Beberapa anak tertular oleh virus ini melalui penganiayaan seksual.

HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa atau kontak dekat yang tidak bersifat seksual di tempat bekerja, sekolah ataupun di rumah. Belum pernah dilaporkan kasus penularan HIV melalui batuk atau bersin penderita maupun melalui gigitan nyamuk.
Penularan dari seorang dokter atau dokter gigi yang terinfeksi terhadap pasennya juga sangat jarang terjadi.


GEJALA
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononukleosis infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun kelenjar getah bening tetap membesar.

Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringn secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS.

Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS.

Gejalanya berupa:
- pembengkakan kelenjar getah bening
- penurunan berat badan
- demam yang hilang-timbul
- perasaan tidak enak badan
- lelah
- diare berulang
- anemia
- thrush (infeksi jamur di mulut).

Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.

Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor. Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian, terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah.

Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya AIDS:
  1. Thrush.
    Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
  2. Pneumonia pneumokistik.
    Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV
  3. Toksoplasmosis.
    Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak.
  4. Tuberkulosis.
    Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan.
  5. Infeksi saluran pencernaan.
    Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat badan.
  6. Leukoensefalopati multifokal progresif.
    Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal.
  7. Infeksi oleh sitomegalovirus.
    Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus.
  8. Sarkoma Kaposi.
    Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit.
    Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual.
  9. Kanker.
    Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum.

DIAGNOSA
Pemeriksaan yang relatif sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes ELISA. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya antibodi terhadap HIV, hasil tes secara rutin diperkuat dengan tes yang lebih akurat.

Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana antibodi belum positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat sensitif untuk mendeteksi virus, yaitu antigen P24. Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk keperluan transfusi.

Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya. Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini juga bisam enentukan adanya antibodi terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.


PENGOBATAN
Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV:
  1. Nucleoside reverse transcriptase inhibitor
    - AZT (zidovudin)
    - ddI (didanosin)
    - ddC (zalsitabin)
    - d4T (stavudin)
    - 3TC (lamivudin)
    - Abakavir
  2. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
    - Nevirapin
    - Delavirdin
    - Efavirenz
  3. Protease inhibitor
    - Saquinavir
    - Ritonavir
    - Indinavir
    - Nelfinavir.

Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun.

AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf-saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan.

Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah.

Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease paunch).

Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi ooportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak.

Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau Mycobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang.


PROGNOSIS
Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya.

Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%. Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS. Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh.

Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus RNA/mL plasma.

Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS.

Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.


PENCEGAHAN
Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko tinggi untuk tertular.

Cara-cara pencegahan ini adalah:
  1. Untuk orang sehat
    - Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual)
    - Seks aman (terlindung)
  2. Untuk penderita HIV positif
    - Abstinens
    - Seks aman
    - Tidak mendonorkan darah atau organ
    - Mencegah kehamilan
    - Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi
  3. Untuk penyalahguna obat-obatan
    - Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama
    - Mengikuti program rehabilitasi
  4. Untuk profesional kesehatan
    - Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh
    - Menggunakan jarum sekali pakai

Bermacam-macam vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas penyakit, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil. Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi penderita HIV kecuali penderita mengidap penyakit menular seperti tuberkulosa. Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah bisa dibersihkan dan disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan desinfektan yang biasa digunakan seperti hidrogen peroksida dan alkohol.
Baca SelengkapnyaInfeksi HIV
loading...

Posting Terbaru