Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta Sedih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian Akhir

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian Akhir

Singkat cerita akupun pergi meninggalkan gadis itu, dan mencari tempat kemahku yang telah ku ketahui arahnya, yaitu arah matahari anak tenggelam yaitu arah barat, gadis itu hanya berdiri mematung melihat kepergianku, aku bergegas berlari ke arah kemah, sampai di kemah betapa terkejutnya aku, melihat semua teman-temanku tergeletak bersimpah darah, bahkan salah satu temanku kakinya putus, aku berlari menghampiri mereka dan berteriak.
Aku “ada apa ini, ada apa dengan kalian”


Dan salah satu temanku menjawab, ternyata mereka diserang binatang buas sejenis anjing, aku bingung bagaimana bisa 7 orang kalah melawan anjing, namun mereka semua terluka, dan dari 7 orang temanku semuanya diserang di bagian kaki, sehinggga mereka tidak bisa berjalan sama sekali, aku panik harus berbuat apa, salah satu temanku bicara.
tadi subuh kami diserang binatang itu, mereka banyak sekali, disini terlalu berbahaya, kita harus pergi


 dan temanku yang lain juga setuju dengan hal itu, namun dengan kondisi mereka, kami tidak bisa pergi disini hanya aku yang bisa berjalan, aku mengikat dan menyumbat luka-luka di kaki teman-temanku, dan saat itu juga salah satu temanku memberikan saran.
“karena hanya kamu yang bisa berjalan, sebaiknya kamu cepat turun ke kota mencari bantuan”
Tanpa pikir panjang aku langsung setuju, dan berlari menuruni bukit, aku terus berlari, jarak dari kota ke kemah sekitar 3 jam kalau mendaki, namun kalau menurun akan lebih cepat, apalagi aku berlari, hampir 1,5 jam perjalanan akhirnya aku sampai di pemukiman terdekat, dan aku langsung berteriak meminta tolong ke semua orang, setelah sedikit bercerita, penduduk setempat mengumpulkan para pemuda dan beberapa perlengkapan.

Kami sesegera mungkin berangkat menuju teman-temanku yang terluka, tapi perjalanan memang sangat jauh, kami bahkan membutuhkan waktu hampi 3 jam untuk persiapan dan perjalanan, sehingga pas tengah hari kami baru sampai di kemah, untung saja teman-temanku masih bertahan, kami langsung memberikan pertolongan pertama, dan juga membuat tandu darurat untuk membawa teman-temanku kembali ke kota, hampir sore hari kami baru berhasil sampai di kota, kami langsung membawa teman-temanku ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan, semua keluarga kami kabari dan mereka langsung datang ke rumah sakit, dan keluargaku juga datang.

Tanpa terasa waktu hampir magrip, semua sudah tenang, meskipun teman-temanku terluka parah, namun mereka masih sempat di selamatkan, dan mereka menceritakan kejadian itu kepada para posili yang datang, mereka bercerita bahwa mereka di serang binatang aneh mirip anjing ketika sedang istirahat kelelahan karena mencariku yang hilang di hutan. Aku jadi merasa menyesal dan bersalah, namun saat itu juga aku baru ingat dengan janjiku untuk memabawa gadis telaga.

Tanpa pikir panjang aku langsung melepas infus, dan bersiap untuk kembali ke bukit untuk menjemput gadis telaga, namun adikku bertanya, “Kakak mau kemana..?” dan kujawab bahwa aku akan pergi ke bukit untuk menjemput salah satu temanku, namun adikku malah berteriak memanggil ayahku, dan merekapun berkumpul, bahkan para polisi yang masih disitu juga ikut berkumpul, aku menceritakan semuanya, dan sebab itulah aku akan kembali ke gunung.

Namun meski dengan ceritaku itu, tidak ada yang percaya, karena mereka bertanya kepada teman-temanku, hanya ada kami berdelapan, dan tidak ada orang lain lagi. Walaupun begitu polisi tetap akan pergi kebukit, karena khawatir kalau masih ada orang dan khawatir kalau orang tersebut diserang oleh binatang yang menyerang teman-temanku. Aku bersikeras untuk ikut, namun orang tuaku tidak mengizinkanya, akupun diikat di tempat tidur pasien, padahal aku tidak mengalami luka sedikitpun, ayah dan kakak laki-laki ku berjaga disampingku dan tidak mengizinkanku untuk pergi.
Aku gelisah dan bingung harus bagaimana, aku hanya bisa memberitahu lokasi tempat dimana gadis telaga itu berada kepada polisi yang akan naik ke bukit, entah mengapa aku terasa mengantuk sekali, ini adalah malam pertama di bulan ramadhan, ini bulan perawan.

Keesokan paginya sebagian polisi telah kembali, dan mereka bilang mereka tidak menemukan apapun, bahkan mereka tidak menemukan lubang air tempat batu gadis itu berada, yang ada hanya hutan dan bukit terjal. Meskipun begitu mereka masih tetap mencari, dan karena aku sudah sehat, aku di ajak naik untuk menujukkan tempat gadis itu, dengan pengawalan beberapa polisi dan tim pemadam.
Kami telah sampai pada tempat aku menemukan gadis itu, namun tidak ada apapun disitu, hanya ada pepohonan yang mirip dengan pohon bakau, lubang air tempat batu itupun tidak ada, semuanya sudah benar-benar berubah, yang sama hanya pepohonan yang mirip pohon bakau, bahkan para pemadam dan polisipun bingung, karena pohon seperti itu seharusnya tinggal di danau atau di pinggir laut, bukan di atas bukit terjal.

Aku tidak putus asa dan terus mengelilingi tempat itu, bahkan pihak pemadam telah minta bantuan helicopter untuk mencari tempat itu dari atas, namun tetap tidak ditemukan. Hampi satu minggu kami terus mencari, namun tidak ditemukan juga. Dan pihak berwenang juga sudah menghentikan pencarian, ada pula yang bilang bahwa itu adalah ulah setan yang sengaja menyesatkanku, ada juga yang bilang itu hanya halusinasiku karena terlalu lelah ketika berlari tersesat di tengah hutan yang gelap, namun aku tetap percaya bahwa telaga itu ada, lubang dengan batu di tengahnya itu juga ada, dan gadis telaga itu tentunya nyata.


Sampai saat ini masih sering orang biasa atau pendaki yang tidak sengaja menemukan telaga itu, mereka bilang ada sesosok gadis yang selalu menangis, namun mereka tidak bisa melihat atau menemukanya, sedangkan aku sendiri sudah berulang kali kembali kesana, sengaja mendaki untuk mencarinya, namun tidak pernah menemukanya. Kono kata kakek dari temanku, gadis itu hanya bisa dijumpai sebelum bulan perawan bulan ramadhan, tapi aku belum juga bisa menemukan dimana telaga itu sebenarnya

Baca SelengkapnyaBidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian Akhir
loading...

Cerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3

Aku bertanya kepadanya, siapa namanya, namun dia malah kebingungan dan tidak bisa menjawab, saat ku Tanya siapa dia dan kenapa dia basah kuyup berada di tengah telaga, dia hanya menjawab “Aku Gadis yang Dikutuk”, dan jawaban itu benar-benar membuatku merasa ketakutan, namun karena dia menjawab dengan muka imut dan lugu, aku jadi merasa sedikit tenang, minimal tidak ada taring panjang dan kuku yang mengerikan.



Karena gugup aku hampir lupa hal yang penting, yaitu kembali ke kemah, akupun menanyakan kepada gadis itu jalan menuju kota, namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, aku Tanya soal tolitoli, dia juga menggeleng-gelengkan kepala, dan terakhir aku Tanya soal laut, di baru menunjuukkan arah, dan itu membuatku sedikit lega, kami hanya terdiam dan sedikit saling Tanya, aku berencana akan pergi setelah matahari terbit.

Tak berapa lama, matahari terbit dan benar apa yang di tunjuk gadis telaga itu, karena laut terletak di sebelah barat dan gunung terletak di sebelah timur, akupun memutuskan untuk kembali ke kemah, aku tak lupa mengajak gadis telaga itu, sekitar baru  5 menit berjalan gadis itu terjatuh lemas, aku bingung dan menanyakan kepadanya ada apa, namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, aku membantunya berdiri dan membantunya berjalan, namun kurasa semakin jauh kami berjalan dari telaga, semakin dingin badan gadis ini, dan dia seperti bernafas semakin berat, seolah merasakan sakit yang luar biasa, aku bertanya lagi padanya,” Kamu ini sebenarnya kenapa, kenapa badamu semakin dingin, dan sepertinya kamu merasakan sakit sekali” dia hanya menjawab “Batu,,Batu danau,, ”.


Kucoba berfikir keras apa sebenarnya yang dia maksud, baru kuingat ketika pertama kali melihatnya, dia tergeletak dibatu yang terletak di bekas telaga. Tanpa pikir panjang langsung ku gendong dia dan kubawa ke arah tengah telaga, badanya benar-benar lembut, kulitnya halus “Ahh.. aku tidak boleh berfikiran tidak senonoh” namun itulah pikiranku.

Setelah sampai di lubang di tengah telaga aku berjalan sambil membawa gadis itu melewati air, airnya tidak begitu dalam hanya setinggi pinggang, namun jernih sekali, ku tidurkan gadis itu di batu tempat awal dia muncul, dan perlahan muka dan kulitnya kembali menjadi cerah kuning merona. Diapun tersenyum manis sambil masih menutup matanya, manissss,, sekali, sambil mengucapkan lirih “Terimakasih..” sehingga membuat jantungku berdetak kencang.

Namun tak berapa lama aku baru sadar, bingung harus bagaimana antara menunggu gadis telaga ini sampai bangun, atau segera pergi menuju kemah dan menyampaikan ke teman-teman, dan hati nuraniku ternyata lebih memilih menunggu gadis telaga ini, entah karena kasihan, atau aku telah jatuh cinta karena kecantikanya.
Hampir satu jam lamanya aku menunggu gadis itu hingga akhirnya dia terbangun, dan akupun duduk di sampingnya, dia menyandarkan kepalanya di bahuku, dan ini membuatku salah tingkah. Namun ku dengan dia berbicara lirih dan bertanya.

Dia “Apa aku boleh ikut denganmu,, bolehkah aku ikut denganmu ??”
Aku “Tentu saja boleh, kenapa tidak”
Dia “Tapi aku tidak bisa jauh dari batu ini,,”
Aku berfikir sejenak dan bertanya.
Aku “Jadi..? bagaimana caramu ikut denganku??”
Dia ”Kalau boleh, tunggu hingga 2 hari lagi, ketika bulan pertama kali muncul, jika aku dibawa oleh orang lain aku bisa pergi dari tempat ini”
Tanpa pikir panjang akupun setuju dengan apa yang di ucapkanya. Dan akan menunggu  hingga awal bulan. Namun aku tetap penasaran dan menanyakan kenapa bisa begitu, kenapa harus menunggu awal bulan.
Aku “Kenapa harus awal bulan? Kenapa sekarang tidak bisa?”
Dia “awal bulan adalah bulan perawan, dan aku hanya diizinkan untuk pergi jika ada seorang lelaki yang membawaku ketika bulan perawan”
Aku “Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa harus seperti itu”

Dia hanya terdiam sejenak dan menceritakan kisahnya, dan betapa terkejutnya aku ketika tau alasan dia berada di tengah danau ini. Dia adalah seorang gadis yang dikorbankan, ya menurutku dia dikorbankan bukan di kutuk. Desa itu memiliki kepercayaan yang aneh, mereka mencari gadis dengan tanda sayap di punggunya, dan kebetulan gadis inilah yang memiliki tanda tersebut, di memiliki tanda hitam kecil berbentuk sayap di punggungnya. Dan gadis ini di ikat di sebuat batu untuk persembahan, menurut kepercayaan mereka, dengan mempersembahkan gadis dengan tanda sayap di punggungnya, maka desa akan terlindung oleh orang luar, dan akan selalu aman dari gangguan apapun.
Mungkin kelelahan atau apa, dia tertidur di pahaku, dan ku usap rambutnya yang lurus panjang terurai, sambil ku tatap wajah manis yang lembut, tak terasa malampun tiba, entah mengapa aku tidak merasa lapar sama sekali, yang ada hanya rasa bahagia, akupun tertidur di batu itu, dan ketika pagi datang aku terbangun dan ku lihat gadis itu sedang asik main air di sekitar batu, sambil tertawa kecil dan anehnya burung burung kecil berterbangan disekitarnya tanpa rasa takut, semakin ku perhatikan aku semakin jatuh cinta padanya.

Aku berfikir untuk kembali ke kemah sendiri dan meninggalkanya.
Aku “Aku akan pergi sebentar untuk ke kemah, memberi kabar ke teman-temanku”
Dia “Jangan, bukanya kamu sudah berjanji untuk membawaku nanti malam”
Aku “ia aku sudah berjanji, namun aku tidak bisa membiarkan temanku khawatir dan mencariku, karena ini sudah 2 hari sejak aku hilang”

Dengan muka yang sedih, dia hanya terdiam dan menundukkan kepala, aku hanya memeluknya dan berbisik, tenang saja aku akan kembali menjemputmu.
Baca SelengkapnyaCerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3
loading...

Cerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2

Akupun memutuskan untuk masuk lebih dalam ke hutan, sekitar 15 menit berjalan, dari kejauhan kulihat cahaya emas, yaitu cahaya pantulan dari matahari tenggelam “Tapi bagaimana ada Pantulan cahaya Matahari pikirku, mana mungkin pohon memantulkan cahaya” aku langsung menuju ke tempat itu, dan ternyata kilauan cahaya yang indah, angin sejuk yang menenangkan hati, serta air yang sangat jernih, ya, aku menemukan Telaga Tersembunyi yang melegenda itu.

Dibenakku aku berfikir untuk lari kembali ke kemping, dan memberitahu ini kepada teman-temanku. Namun ak berhenti, karena hari hampir gelap maka kuputuskan untuk menikmatinya sendiri, dan memberi tahu mereka besok, karena rencana kami akan kemping selama 2 malam.

Aku terus menikmati sambil duduk sendiri di samping telaga itu, tanpa kusadari hari sudah gelap, dan cahaya emas di telaga juga sudah hilang, aku tersadar dan pergi meninggalkan telaga untuk mebali ke kemah sambil membawa sedikit kayu kering, namun  sekitar 30 menit berjalan aku belum sampai di kemah, padahal tadi hanya sekitar 15 menit jarak dari kemah. Aku mulai panik dan lari lari kecil agar lebih cepat sampai, dan pada saat itu juga aku langsung berhenti dan terkejut sambil jantungku berdetak sangat kencang, antara ketakutan dan bingung harus bagaimana, bagaimana tidak ketakutan ternyata yang ada di depan mataku adalah Telaga Legenda Tolitoli yang 30 menit lalu kutinggalkan.


Kuperhatikan baik-baik telaga itu dan ternyata aku berada di seberang telaga tempat aku datang tadi, seolah-oleh aku mengelilingi dunia dan kembali ke tempat yang sama, aku ketakutan dan langsung lari keseberang telaga  untuk kembali ke kemah, beberapa saat kemudian aku berhenti dan terduduk lemas, aku ketakutan dan terdiam hampir menangis, bagaimana tidak, ternyata aku telah sampai di Telaga ini lagi, dan berada di seberang tempat aku datang.
Hari sudah benar-benar gelap, langit mendung dan sudah gerimis tanda hujan akan datang. Aku mencoba untuk tenang agar bisa berfikir jernih, dalam hatiku berkata “Aku anak yang kuat, sudah terbiasa kemping di tengah hutan” jadi yang harus kulakukan adalah mencari tempat berteduh sementara, dari kejauhan kulihat ada gua yang cukup besar, aku langsung lari menuju gua itu, dan berteduh disitu.
Lelah,Lapar,Kedinginan, itulah yang kurasakan saat ini, hatiku sudah mulai tenang, karena kupikir akan ku tunggu sampai pagi agar bisa pulang. Karena hujan sudah sangat deras, Tanpa sadar aku tertidur di dalam gua itu.
Cukup lama aku tertidur akhirnya ak terbangun kulihat jam tangan, ternyata jam 4 pagi, kulihat langit dan ternyata hujan sudah berhenti, cahaya bintang menjadi satu-satunya cahaya yang menyinari hutan saat itu, aku kembali terkejut, karena kulihat tempat yang awalnya sebuah danau yang cukup luas, kini sudah kering, dan hanya ada sejenis tanaman bakau yang tumbuh lebat tidak beraturan, aku langsung belari kearah pohon bakau itu, dan benar-benar tidak ada sedikitpun air yang tersisia.

Jantungku dag dig dug ga karuan, bingung harus ngomong apa, karena pemandangan benar-sudah berubah, meskipun masih gelap aku tidak perduli, aku berkeliling bekas telaga itu, yang kini sudah menjadi tanaman sejenis bakau, sampai akhirnya aku tida di bagian tengah bekas telaga, kulihat ada lubang yang cukup besar sekitar sebesar lapangan basket, aku langsung berlari kearah lubang itu, dan betapa terkejutnya aku karena disitu kulihat ada air jernih yang ditengahnya terdapat batu cukup besar, dan di batu itu tergeletak sesosok mahluk putih, namun namun sosok itu tidak begitu asing bagiku karena itu adalah sosok gadis yang hanya memakai kain putih transparan yang basah kuyup sehingga seluruh bentuk tubuhnya terlihat dengan jelas.



Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak untuk memanggilnya, memastikan dia manusia yang masih hidup atau manusia yang sudah mati(Hantu). Woooiii,,,,, Ngapain Kau disitu,, diapun bangun dengan tenang dan berjalan menuju arahku, rasanya aku mau lari dari tempat itu, tetapi kakiku kaku tidak bisa digerakkan, entah ini rasa takut, atau apa, sebab dia berjalan melewati air seolah berjalan diatas air.

Dia hanya terdiam memandangiku dari dekat, melihat seluruh tubuhku, dan tiba-tiba dia terkulai jatuh, akupun langsung panik dan lari, namun beberapa langkah aku baru berlari, aku melihat kebelakang dan gadis itu terkulai tidak bergerak, akupun berhenti dan bingung harus bagaimana.
Akhirnya aku kembali ke tempat gadis itu, wajahnya putih bersih badanya indah seperti penyanyi K-Pop Korea, namun memiliki muka khas Indonesia, ku goyang-goyang badanya dengan kaki karena aku juga masih takut, aku tidak yakin itu manusia atau apa, namun dia tidak ada respon, akhirnya ku pegang tanganya, rasanya hangat, “Ohh,, Sepertinya ini Manusia juga” itu yang ada di dalam benakku.

Saat itu juga dia membuka matanya dan dari mulutnya terdengan suara lirih, Dingin,, Dingin,,otomoatis reflekku sebagai lelaki muncul, ku buka jaketku dan kututupkan di badanya agar dia merasa hangat.

Singkat cerita aku dan Gadis telaga itu sudah berada di dalam gua tempat aku istirahat, gadis itu telah terbangun, namun itu justru membuatku gugup tidak karuan, karena dia terus memandangiku sambil sesekali menyentuh badanku, terkadang rambutku, terkadang tanganku. Gadis ini benar-benar manis, kulitnya mulus tanpa cacat, dan karena bajunya putih dan transparan, maka aku bisa melihat bagian kakinya dan itu membuatku semakin gugup. 
Baca SelengkapnyaCerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2
loading...

Sabtu, 16 Juli 2016

Cerita Cinta Mengenaskan

Ini adalah sebuah cerita Cinta yang berakhir mengenaskan, cerita cinta ini di buat agar kita bisa menerima takdir kita, dan tidak lari dari kenyataan.

Cerita Cinta Mengenaskan

Cerita cinta yang menyentuh hati ini dimulai dari sebuah danau. Suatu hari di tepi danau yang indah, seorang wanita sedang duduk sendiri. Dia sedang memainkan kuas dengan warna-warni cat diatas kanvas. Pelangi, itulah namanya. Dia sering berada di tepi danau melakukan kegiatan melukis sendiri. 

Setiap hari dia diantar oleh pengasuhnya ke tempat tersebut. Sesekali terkadang bersama neneknya dia pergi ke danau tersebut. Pelangi adalah seorang wanita cantik yang ditinggal oleh ayahnya yang harus bekerja di Jerman, ibunya meninggal saat dia masih kecil, dan kini dia tinggal bersama kakek, nenek, serta pengasuhnya. Pelangi menjalani home schooling di rumahnya. Tidak seperti wanita normal lainnya yang sering bergaul, Pelangi justru wanita yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman.
Minggu pagi yang cerah saat Pelangi sedang libur dari home schooling-nya, dia pergi ke tepi danau tempat biasa dia melukis. Siapa sangka, setiap dia melukis di tepi danau itu ternyata ada seorang pria yang sering memperhatikannya dari kejauhan dan secara sembunyi-sembunyi. Pelangi tidak mengetahui kalau dia memiliki seorang penggemar rahasia yang selalu memperhatikannya dari kejauhan. 

Pria tersebut sangat terpesona dengan paras wajah Pelangi yang sangat menawan, tubuhnya yang sangat mungil, serta rambutnya yang sekali-sekali tertiup oleh angin sehingga membuat Pelangi semakin cantik. Namun sayangnya si pria tidak bernyali untuk menghampiri Pelangi, dia malu dan minder serta takut juga kalau dia tidak disambut baik oleh Pelangi.
Pada saat itu ketika Pelangi sedang asyik melukis, tiba-tiba hujan turun. Rintik-rintik hujan yang kecil di minggu pagi itu membuat Pelangi tidak berpindah dari tempatnya melukis, dia hanya membereskan peralatan lukisnya saja. Si pria tersebut heran melihat Pelangi yang tidak berteduh, sehingga dia memaksakan diri untuk menghampiri pelangi. “Hei, kenapa kamu tidak berteduh? Ayo kita berteduh!” ujar si pria tersebut. 

Pelangi tetap terdiam di tempatnya itu dengan mata terpejam dan senyumnya yang seakan menikmati hujan tersebut, dia berkata “tidak, kamu saja yang berteduh. Aku sangat menyukai hujan rintik-rintik seperti ini karena ini membuatku tenang” tanpa sadar pelangi menjawabnya dengan mata terpejam. Pria tersebut hanya diam saja memperhatikan pelangi yang sedang asyik menikmati hujan rintik-rintik, lalu Pelangi membuka matanya dan berkata lagi kepada pria tersebut “Kamu siapa? Kenapa mengajak berteduh, apa kamu mengenaliku?” (dengan nada yang heran). Si pria menjawabnya, “tadi aku duduk di balik pohon besar itu, lalu aku melihatmu sedang hujan-hujanan jadi aku ingin mengajakmu untuk berteduh” si pria merasakan hal yang berbeda, perasaan yang sangat meluap-luap yang tidak bisa di deskripsikan. Karena Pelangi semakin basah, si pria tersebut kembali mengajak Pelangi untuk berteduh. Namun Pelangi tetap tidak ingin pergi dari sana sambil memejamkan matanya dan menikmati rintik hujan, sampai akhirnya hujanpun berhenti dan pelangi membuka matanya. 

Dengan melihat ke atas langit, Pelangi semakin tersenyum melebar karena melihat ada pelangi yang menghias tepat di langit danau tersebut. “Oh iya, aku Pelangi, kamu siapa? Kok menungguku daritadi?” ujar Pelangi. “Aku Andre, oh jadi karena kamu menyukai pelangi makanya namamu menjadi Pelangi?” jawab si pria sambil tersenyum hangat. Akhirnya percakapan merekapun semakin jauh dan keduanya saling bertukar kontak HP.
Singkat cerita, Andre dan Pelangi semakin dekat dan dekat. Entah apa yang dirasakan Pelangi karena tidak biasanya dia dekat dengan seorang pria, biasanya dia hanya dekat dengan orang-orang terdekatnya saja. Andre-pun merasakan hal yang sama, dia merasakan hal yang berbeda ketika dekat dengan Pelangi. 

Setiap malam mereka berkomunikasi di lewat HP, semakin hari semakin hubungan mereka semakin dekat dan mereka sering bertemu juga. Satu hari akhirnya mereka berpacaran dan disinilah awal mula kisah cinta mereka. Saling menyayangi dan mencintai, itulah yang mereka rasakan dan lakukan satu sama lain. Sekarang yang mengantar Pelangi ke danau sudah bukan pengasuhnya lagi, melainkan kekasihnya sendiri yaitu Andre. Andre sudah mengetahui waktu kapan mengantar dan menjemput Pelangi. Seusai home schooling, Andre sudah stand by di teras rumah Pelangi dan bersiap untuk mengantar kekasih yang baru dia kenal dalam waktu dekat dan dia dicintainya itu.

Suatu hari Pelangi meminta Andre untuk tidak mengantar dan menjemputnya karena Pelangi terkujur sakit. Dalam waktu yang bersamaan pertengkaran juga menghampiri mereka, entah apa yang menyebabkan pertengkan tersebut. Mereka lost contact karena keduanya saling menjaga gengsi untuk menghubungi, namun rindu mereka semakin lama semakin meluap. Leukimia, itulah penyakit yang menimpa Pelangi. Andre tidak mengetahui bahwa kekasihnya itu memiliki penyakit ganas tersebut, dan penyakit leukimia Pelangi sudah sangat parah. Hingga pada suatu hari Andre tidak tahan menahan rindu dan akhirnya dia menghubungi Pelangi. 

Nama Andre tertulis di HP Pelangi berdering, namun sayang yang menjawabnya bukan Pelangi melainkan neneknya karena Pelangi sedang tidak sadar. Mendengar kabar dari neneknya, Andre tidak berfikir panjang dan langsung mengarahkan motornya menuju rumah sakit yang diberitahu oleh nenek Pelangi. Saat bertemu dengan nenek dan kakek pelangi, terlihat wajah sedih mereka (walaupun ditutupi dengan senyuman). 

Begitu Pelangi sadar, Andre langsung meminta izin untuk melihatnya kepada dokter, dan dokterpun mengizinkannya. “Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu memiliki penyakit ini? Jujur, hari ini rinduku sudah mencapai puncaknya dan aku tidak bisa menahannya lagi” ujar Andre sambil menangis di depan Pelangi. “Kenapa kamu ada disini sayang? Aku takut kamu menjauhiku jika kuberitahu penyakitku ini padamu” jawab Pelangi dengan suaranya yang kecil karena masih sangat lemas. “Aku meneleponmu dan nenekmu yang menjawabnya, sehingga aku tahu kamu disini. Dengar, seberapa buruk penyakitmu, apapun yang terjadi kepadamu, aku tidak akan pernah menjauhimu apalagi meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu lebih dari apapun, dan aku akan selalu berada disampingmu sampai kapanpun. 

Maafkan aku yang menjaga gengsi kemarin karena akupun menunggu kabar darimu, sejujurnya aku sangat menyesal dengan kelakuanku kemarin”. Mendengar kalimat dari pacarnya, Pelangi tak kuasa menahan air matanya sehingga tetes air matapun jatuh di bantalnya. “Ternyata kamu merasakan hal yang sama denganku, aku sayang kamu Andre. Sekarang pulanglah, dan kembalilah besok karena sekarang sudah malam. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan” Kata Pelangi sambil menangis dan memegang Andre dengan perasaan yang bahagia. Andre-pun pamit dan segera pulang kerumahnya dengan perasaan yang ingin cepat-cepat esok hari.

Pagipun tiba, Andre terburu-buru pergi ke rumah sakit untuk menemui kekasinya lagi. Sesampainya di rumah sakit, keadaan disana sangat genting. Kakek dan nenek menangis, dokter dan suster sedang berusaha menyadarkan Pelangi. Namun takdir berkata lain, di pagi itu Pelangi menghembuskan nafas terakhirnya. Andre tak kuasa menahan kepedihannya yang sangat dalam, mengapa wanita yang baru saja dia cintai begitu cepat di panggil tuhan. Selepas kepergian kekasihnya, Andre sesekali pergi ke tepi danau menunggu hujan dan menikmatinya, dengan penuh harapan ada pelangi untuk mengenang kisah cintanya

Terimakasih telah membaca Cerita Cinta Mengenaskan ini, semoga cerita ini dapat membuka hati kita, supaya tidak mementingkan ego sendiri dan mengabaikan Cinta

Baca SelengkapnyaCerita Cinta Mengenaskan
loading...

Jumat, 15 Juli 2016

Cerita Cinta - Ku Korbankan Keperawananku

Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang terpaksa harus menawarkan keperawanannya kepada beberapa orang yang ada di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhanya.


Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:



” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? “

” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”

” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? “
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.
” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

” Apakah anda serius? ”

” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.

” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .”
” Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya
” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan?”
” Kalau tidak terbukti? “
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ”
” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”
” Tidak adakah yang lebih tinggi?”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh… ”
” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …

” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.

” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ”

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakahitu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika
” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu.
Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ” Benarkah itu? ”

” Benar, pak. ”

” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”

” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar …

” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”

” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”

” Maksud kamu? ”

” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanita ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

” Siapa nama kamu? ”

” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu

” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”

”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”

” Ada ! ” Kata pria itu seketika.

” Sebutkan! ”

” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”
” Dan, apakah bapak ikhlas…? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”

” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”

” Silahkan …”

” Mengapa kamu begitu beraninya … ”

” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak … Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`… Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan … ”

” Keyakinan apa? ”

” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita … ” Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”

” Kesadaran… ”


Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.” Kamu sudah pulang, nak ”

” Ya, bu … ”

” Kemana saja kamu, nak … ???”

” Menjual sesuatu, bu … ”

” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan

….
” Kini saatnya ibu untuk berobat … ”
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:”Antar kami ke rumah sakit”

itulah tadi cerita cinta yang berjudul Ku Korbankan Keperawananku, semoga dengan membaca postin Cerita Cinta - Ku Korbankan Keperawananku ini, dapat membuat hati kita mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Baca SelengkapnyaCerita Cinta - Ku Korbankan Keperawananku
loading...

Posting Terbaru