Tampilkan postingan dengan label Malaria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaria. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Malaria Menyerang Sel Darah Merah

Malaria adalah penyakit menular akibat infeksi parasit plasmodium yang menyerang sel darah merah.

Terdapat empat jenis plasmodium yang mampu menginfeksi manusia yaitu plasmodium vivax, malariae, ovale dan falciparum. Plasmodium falciparum paling berbahaya dan dapat mengancam nyawa.

Saat menyerang manusia, parasit plasmodium malaria berbentuk sporozit, yang selanjutnya akan menuju hati melalui peredaran darah dan menjadi dewasa di tempat itu. Setelah dewasa, parasit itu akan menyerang sel darah merah.

Pada saat itu gejala malaria mulai muncul. Bila orang tersebut digigit oleh nyamuk anopheles lagi, parasit yang ada dalam sel darah merah orang itu akan masuk kembali ke tubuh nyamuk dan berkembang biak di sana. Begitulah siklus tersebut terjadi berulang ulang.

Gejala penyakit itu antara lain demam tinggi, perasaan dingin atau kaku pada seluruh tubuh, gemetar, keluar keringat berlebihan, lemas, lelah, sakit kepala, mual, dan muntah. Jika tidak diobati, penyakit malaria dapat menyebabkan kematian.

Malaria dapat dicegah dan diobati. Pencegahan malaria dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk, misalnya tidur dengan kelambu. Hindari keluar rumah pada malam hari tanpa menggunakan pelindung karena pada malam hari nyamuk biasanya bersifat lebih aktif.

Jika akan bepergian ke daerah yang sedang terjadi kasus malaria, sebaiknya meminta obat antimalaria dari dokter untuk mencegah penularan.

Untuk pengobatan malaria, pemerintah mengeluarkan kebijakan penggunaan obat kombinasi yang dapat diperoleh di Dinas Kesehatan dan Puskesmas secara gratis.

"Tidak lagi menggunakan obat tunggal seperti klorokuin tapi harus kombinasi untuk mengobati malaria. Obat yang digunakan adalah `Artemisinin Combination Therapy (ACT)," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Drg. Tritarayati.

Tritarayati mengatakan, sejak 2008 kebijakan program pengobatan malaria tidak menggunakan obat tunggal seperti klorokuin tetapi menggunakan obat kombinasi ACT untuk semua jenis plasmodium sesuai dengan keputusan Menkes.

Perubahan kebijakan penatalaksanaan kasus malaria itu dilakukan karena pada 1973 ditemukan kasus resistensi klorokuin terhadap plasmodium falciparum" di Kalimantan Timur.

Pada 1990 kasus resistensi terhadap klorokuin dilaporkan terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, selain itu juga dilaporkan resistensi plasmodium falciparum terhadap "Sulfadoksin-Pirimetamin" (SP) di beberapa tempat di Indonesia.


Sumber: SehatNews.com
Baca SelengkapnyaMalaria Menyerang Sel Darah Merah
loading...

Jumat, 08 Januari 2010

Penyebaran Vaksin Malaria Melalui Nyamuk

Nyamuk Malaria
Ilmuwan Eropa akhir-akhir ini melakukan penelitian yang sangat berani dengan menyebar parasit malaria melalui perantara nyamuk. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut adalah bahwa setiap orang yang telah menerima vaksin malaria sebelum mendapatkan gigitan nyamuk, kebal terhadap parasit malaria. Sedangkan yang belum mendapatkan vaksin malaria, tidak kebal dan berkembang menjadi penyakit malaria.

Memang penelitian yang dilakukan tersebut merupakan penelitian kecil yang tidak dapat digolongkan dalam penelitian yang teruji. Namun hasil penelitian tersebut menunjukkan titik cerah dalam pengembangan vaksin malaria yang efektif melawan salah satu penyakit yang mematikan.

Menurut Dr. Carlos Campbell dari Program for Appropriate Technology in Health (PATH), yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, "Seluruh parasit malaria merupakan agen imunisasi yang paling ampuh, meskipun lebih sulit untuk mengembangkannya".

Malaria membunuh hampir satu juta orang setiap tahun, kebanyakan anak-anak di bawah 5 dan terutama di Afrika. Nyamuk menyebarkan parasit malaria immature melalui gigitan, dan parasit menuju ke hati dimana parasit menjadi mature dan berkembang biak. Kemudian, parasit memasuki aliran darah dan menyerang sel darah merah, fase yang membuat orang menjadi sakit malaria.

Seseorang dapat memiliki kekebalan tubuh terhadap malaria jika terserang berkali-kali. Dan obat chloroquine dapat membunuh parasit dalam aliran darah fase akhir, fase yang paling berbahaya. Disini peneliti mencoba mengambil keuntungan dari kedua faktor tersebut, dengan menggunakan chloroquine untuk melindungi tubuh sementara, dan secara bertahap tubuh di-ekspos dengan parasit malaria dan membiarkan kekebalan tubuh berkembang.

Penelitian melibatkan 10 relawan yang diberi nama kelompok vaksin dan 5 relawan lain sebagai kelompok pembanding. Semua diberi chloroquine selama 3 bulan, dan sebulan sekali mereka diberi gigitan nyamuk; kelompok vaksin diberi gigitan nyamuk pembawa parasit malaria, sedangkan kelompok pembanding diberi gigitan nyamuk yang tidak terinfeksi parasit malaria.

Setelah 3 bulan, semua 15 relawan berhenti diberi chloroquine. 2 bulan kemudian, semua diberi gigitan nyamuk yang terinfeksi malaria. Hasilnya, tak satu pun dari 10 relawan kelompok vaksin menjadi sakit malaria, sedangkan semua 5 relawan kelompok pembanding menjadi sakit malaria.

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Universitas Radboud di Nijmegen - Belanda, dan didanai oleh dua yayasan, juga pemerintah Perancis. Menurut Dr. Robert Sauerwein, salah seorang peneliti, "Ini bukan vaksin seperti pada produk-produk komersial, tetapi cara untuk menunjukkan bagaimana seluruh parasit dapat digunakan sebagai vaksin untuk melindungi tubuh terhadap penyakit.

Baca SelengkapnyaPenyebaran Vaksin Malaria Melalui Nyamuk
loading...

Posting Terbaru