Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta Bidadari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta Bidadari. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Cerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3

Aku bertanya kepadanya, siapa namanya, namun dia malah kebingungan dan tidak bisa menjawab, saat ku Tanya siapa dia dan kenapa dia basah kuyup berada di tengah telaga, dia hanya menjawab “Aku Gadis yang Dikutuk”, dan jawaban itu benar-benar membuatku merasa ketakutan, namun karena dia menjawab dengan muka imut dan lugu, aku jadi merasa sedikit tenang, minimal tidak ada taring panjang dan kuku yang mengerikan.



Karena gugup aku hampir lupa hal yang penting, yaitu kembali ke kemah, akupun menanyakan kepada gadis itu jalan menuju kota, namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, aku Tanya soal tolitoli, dia juga menggeleng-gelengkan kepala, dan terakhir aku Tanya soal laut, di baru menunjuukkan arah, dan itu membuatku sedikit lega, kami hanya terdiam dan sedikit saling Tanya, aku berencana akan pergi setelah matahari terbit.

Tak berapa lama, matahari terbit dan benar apa yang di tunjuk gadis telaga itu, karena laut terletak di sebelah barat dan gunung terletak di sebelah timur, akupun memutuskan untuk kembali ke kemah, aku tak lupa mengajak gadis telaga itu, sekitar baru  5 menit berjalan gadis itu terjatuh lemas, aku bingung dan menanyakan kepadanya ada apa, namun dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, aku membantunya berdiri dan membantunya berjalan, namun kurasa semakin jauh kami berjalan dari telaga, semakin dingin badan gadis ini, dan dia seperti bernafas semakin berat, seolah merasakan sakit yang luar biasa, aku bertanya lagi padanya,” Kamu ini sebenarnya kenapa, kenapa badamu semakin dingin, dan sepertinya kamu merasakan sakit sekali” dia hanya menjawab “Batu,,Batu danau,, ”.


Kucoba berfikir keras apa sebenarnya yang dia maksud, baru kuingat ketika pertama kali melihatnya, dia tergeletak dibatu yang terletak di bekas telaga. Tanpa pikir panjang langsung ku gendong dia dan kubawa ke arah tengah telaga, badanya benar-benar lembut, kulitnya halus “Ahh.. aku tidak boleh berfikiran tidak senonoh” namun itulah pikiranku.

Setelah sampai di lubang di tengah telaga aku berjalan sambil membawa gadis itu melewati air, airnya tidak begitu dalam hanya setinggi pinggang, namun jernih sekali, ku tidurkan gadis itu di batu tempat awal dia muncul, dan perlahan muka dan kulitnya kembali menjadi cerah kuning merona. Diapun tersenyum manis sambil masih menutup matanya, manissss,, sekali, sambil mengucapkan lirih “Terimakasih..” sehingga membuat jantungku berdetak kencang.

Namun tak berapa lama aku baru sadar, bingung harus bagaimana antara menunggu gadis telaga ini sampai bangun, atau segera pergi menuju kemah dan menyampaikan ke teman-teman, dan hati nuraniku ternyata lebih memilih menunggu gadis telaga ini, entah karena kasihan, atau aku telah jatuh cinta karena kecantikanya.
Hampir satu jam lamanya aku menunggu gadis itu hingga akhirnya dia terbangun, dan akupun duduk di sampingnya, dia menyandarkan kepalanya di bahuku, dan ini membuatku salah tingkah. Namun ku dengan dia berbicara lirih dan bertanya.

Dia “Apa aku boleh ikut denganmu,, bolehkah aku ikut denganmu ??”
Aku “Tentu saja boleh, kenapa tidak”
Dia “Tapi aku tidak bisa jauh dari batu ini,,”
Aku berfikir sejenak dan bertanya.
Aku “Jadi..? bagaimana caramu ikut denganku??”
Dia ”Kalau boleh, tunggu hingga 2 hari lagi, ketika bulan pertama kali muncul, jika aku dibawa oleh orang lain aku bisa pergi dari tempat ini”
Tanpa pikir panjang akupun setuju dengan apa yang di ucapkanya. Dan akan menunggu  hingga awal bulan. Namun aku tetap penasaran dan menanyakan kenapa bisa begitu, kenapa harus menunggu awal bulan.
Aku “Kenapa harus awal bulan? Kenapa sekarang tidak bisa?”
Dia “awal bulan adalah bulan perawan, dan aku hanya diizinkan untuk pergi jika ada seorang lelaki yang membawaku ketika bulan perawan”
Aku “Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa harus seperti itu”

Dia hanya terdiam sejenak dan menceritakan kisahnya, dan betapa terkejutnya aku ketika tau alasan dia berada di tengah danau ini. Dia adalah seorang gadis yang dikorbankan, ya menurutku dia dikorbankan bukan di kutuk. Desa itu memiliki kepercayaan yang aneh, mereka mencari gadis dengan tanda sayap di punggunya, dan kebetulan gadis inilah yang memiliki tanda tersebut, di memiliki tanda hitam kecil berbentuk sayap di punggungnya. Dan gadis ini di ikat di sebuat batu untuk persembahan, menurut kepercayaan mereka, dengan mempersembahkan gadis dengan tanda sayap di punggungnya, maka desa akan terlindung oleh orang luar, dan akan selalu aman dari gangguan apapun.
Mungkin kelelahan atau apa, dia tertidur di pahaku, dan ku usap rambutnya yang lurus panjang terurai, sambil ku tatap wajah manis yang lembut, tak terasa malampun tiba, entah mengapa aku tidak merasa lapar sama sekali, yang ada hanya rasa bahagia, akupun tertidur di batu itu, dan ketika pagi datang aku terbangun dan ku lihat gadis itu sedang asik main air di sekitar batu, sambil tertawa kecil dan anehnya burung burung kecil berterbangan disekitarnya tanpa rasa takut, semakin ku perhatikan aku semakin jatuh cinta padanya.

Aku berfikir untuk kembali ke kemah sendiri dan meninggalkanya.
Aku “Aku akan pergi sebentar untuk ke kemah, memberi kabar ke teman-temanku”
Dia “Jangan, bukanya kamu sudah berjanji untuk membawaku nanti malam”
Aku “ia aku sudah berjanji, namun aku tidak bisa membiarkan temanku khawatir dan mencariku, karena ini sudah 2 hari sejak aku hilang”

Dengan muka yang sedih, dia hanya terdiam dan menundukkan kepala, aku hanya memeluknya dan berbisik, tenang saja aku akan kembali menjemputmu.
Baca SelengkapnyaCerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 3
loading...

Cerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2

Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2

Akupun memutuskan untuk masuk lebih dalam ke hutan, sekitar 15 menit berjalan, dari kejauhan kulihat cahaya emas, yaitu cahaya pantulan dari matahari tenggelam “Tapi bagaimana ada Pantulan cahaya Matahari pikirku, mana mungkin pohon memantulkan cahaya” aku langsung menuju ke tempat itu, dan ternyata kilauan cahaya yang indah, angin sejuk yang menenangkan hati, serta air yang sangat jernih, ya, aku menemukan Telaga Tersembunyi yang melegenda itu.

Dibenakku aku berfikir untuk lari kembali ke kemping, dan memberitahu ini kepada teman-temanku. Namun ak berhenti, karena hari hampir gelap maka kuputuskan untuk menikmatinya sendiri, dan memberi tahu mereka besok, karena rencana kami akan kemping selama 2 malam.

Aku terus menikmati sambil duduk sendiri di samping telaga itu, tanpa kusadari hari sudah gelap, dan cahaya emas di telaga juga sudah hilang, aku tersadar dan pergi meninggalkan telaga untuk mebali ke kemah sambil membawa sedikit kayu kering, namun  sekitar 30 menit berjalan aku belum sampai di kemah, padahal tadi hanya sekitar 15 menit jarak dari kemah. Aku mulai panik dan lari lari kecil agar lebih cepat sampai, dan pada saat itu juga aku langsung berhenti dan terkejut sambil jantungku berdetak sangat kencang, antara ketakutan dan bingung harus bagaimana, bagaimana tidak ketakutan ternyata yang ada di depan mataku adalah Telaga Legenda Tolitoli yang 30 menit lalu kutinggalkan.


Kuperhatikan baik-baik telaga itu dan ternyata aku berada di seberang telaga tempat aku datang tadi, seolah-oleh aku mengelilingi dunia dan kembali ke tempat yang sama, aku ketakutan dan langsung lari keseberang telaga  untuk kembali ke kemah, beberapa saat kemudian aku berhenti dan terduduk lemas, aku ketakutan dan terdiam hampir menangis, bagaimana tidak, ternyata aku telah sampai di Telaga ini lagi, dan berada di seberang tempat aku datang.
Hari sudah benar-benar gelap, langit mendung dan sudah gerimis tanda hujan akan datang. Aku mencoba untuk tenang agar bisa berfikir jernih, dalam hatiku berkata “Aku anak yang kuat, sudah terbiasa kemping di tengah hutan” jadi yang harus kulakukan adalah mencari tempat berteduh sementara, dari kejauhan kulihat ada gua yang cukup besar, aku langsung lari menuju gua itu, dan berteduh disitu.
Lelah,Lapar,Kedinginan, itulah yang kurasakan saat ini, hatiku sudah mulai tenang, karena kupikir akan ku tunggu sampai pagi agar bisa pulang. Karena hujan sudah sangat deras, Tanpa sadar aku tertidur di dalam gua itu.
Cukup lama aku tertidur akhirnya ak terbangun kulihat jam tangan, ternyata jam 4 pagi, kulihat langit dan ternyata hujan sudah berhenti, cahaya bintang menjadi satu-satunya cahaya yang menyinari hutan saat itu, aku kembali terkejut, karena kulihat tempat yang awalnya sebuah danau yang cukup luas, kini sudah kering, dan hanya ada sejenis tanaman bakau yang tumbuh lebat tidak beraturan, aku langsung belari kearah pohon bakau itu, dan benar-benar tidak ada sedikitpun air yang tersisia.

Jantungku dag dig dug ga karuan, bingung harus ngomong apa, karena pemandangan benar-sudah berubah, meskipun masih gelap aku tidak perduli, aku berkeliling bekas telaga itu, yang kini sudah menjadi tanaman sejenis bakau, sampai akhirnya aku tida di bagian tengah bekas telaga, kulihat ada lubang yang cukup besar sekitar sebesar lapangan basket, aku langsung berlari kearah lubang itu, dan betapa terkejutnya aku karena disitu kulihat ada air jernih yang ditengahnya terdapat batu cukup besar, dan di batu itu tergeletak sesosok mahluk putih, namun namun sosok itu tidak begitu asing bagiku karena itu adalah sosok gadis yang hanya memakai kain putih transparan yang basah kuyup sehingga seluruh bentuk tubuhnya terlihat dengan jelas.



Tanpa pikir panjang aku langsung berteriak untuk memanggilnya, memastikan dia manusia yang masih hidup atau manusia yang sudah mati(Hantu). Woooiii,,,,, Ngapain Kau disitu,, diapun bangun dengan tenang dan berjalan menuju arahku, rasanya aku mau lari dari tempat itu, tetapi kakiku kaku tidak bisa digerakkan, entah ini rasa takut, atau apa, sebab dia berjalan melewati air seolah berjalan diatas air.

Dia hanya terdiam memandangiku dari dekat, melihat seluruh tubuhku, dan tiba-tiba dia terkulai jatuh, akupun langsung panik dan lari, namun beberapa langkah aku baru berlari, aku melihat kebelakang dan gadis itu terkulai tidak bergerak, akupun berhenti dan bingung harus bagaimana.
Akhirnya aku kembali ke tempat gadis itu, wajahnya putih bersih badanya indah seperti penyanyi K-Pop Korea, namun memiliki muka khas Indonesia, ku goyang-goyang badanya dengan kaki karena aku juga masih takut, aku tidak yakin itu manusia atau apa, namun dia tidak ada respon, akhirnya ku pegang tanganya, rasanya hangat, “Ohh,, Sepertinya ini Manusia juga” itu yang ada di dalam benakku.

Saat itu juga dia membuka matanya dan dari mulutnya terdengan suara lirih, Dingin,, Dingin,,otomoatis reflekku sebagai lelaki muncul, ku buka jaketku dan kututupkan di badanya agar dia merasa hangat.

Singkat cerita aku dan Gadis telaga itu sudah berada di dalam gua tempat aku istirahat, gadis itu telah terbangun, namun itu justru membuatku gugup tidak karuan, karena dia terus memandangiku sambil sesekali menyentuh badanku, terkadang rambutku, terkadang tanganku. Gadis ini benar-benar manis, kulitnya mulus tanpa cacat, dan karena bajunya putih dan transparan, maka aku bisa melihat bagian kakinya dan itu membuatku semakin gugup. 
Baca SelengkapnyaCerita Cinta - Bidadari Telaga Legenda Tolitoli - bagian 2
loading...

Posting Terbaru