Tampilkan postingan dengan label Pengobatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengobatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Cara Baru Pengobatan Impotensi Dengan Gelombang Suara

Pengobatan Impotensi
Mengaliri gelombang suara ke dalam tubuh bisa menjadi cara baru untuk meningkatkan kehidupan seks pria yang memiliki masalah impotensi. Terapi bisa meningkatkan performa dengan merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru di daerah genital, dan bebas rasa sakit. Sebuah percobaan sederhana yang melibatkan 20 pria yang menggunakan Viagra atau obat-obatan sejenis untuk masalah impotensi, 15 diantaranya mengatakan telah sembuh dari impotensi dengan bantuan gelombang suara tanpa menggunakan obat-obatan lagi. Dan tak satu pun dari para sukarelawan melaporkan adanya rasa sakit atau efek samping dari pengobatan.

Terapi baru tersebut menggunakan teknik Lithotripsy, suatu teknik yang dikembangkan lebih dari 20 tahun yang lalu untuk pengobatan batu ginjal. Gelombang suara yang dipancarkan melalui kulit, dan walaupun melewati jaringan tanpa membahayakan tubuh, gelombang suara berada pada tekanan yang tepat untuk menghancurkan batu ginjal menjadi partikel-partikel kecil seperti pasir yang kemudian keluar dari tubuh bersama urin.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa jenis terapi gelombang suara tampaknya memiliki efek yang menyehatkan bagi pembuluh darah. Memicu pelepasan zat penting yang disebut Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang mengirim sinyal bagi pembuluh darah baru untuk mulai tumbuh. Akibatnya, terapi gelombang suara juga menarik minat dari ahli jantung untuk mencari cara baru mengobati penyakit jantung.

Saat ini, peneliti dari AS dan Jepang sedang menyelidiki apakah mengalirkan gelombang suara ke arah jantung akan membantu pertumbuhan pembuluh darah baru yang sehat. Jika memang benar, hal ini dapat memberikan harapan bagi penderita penyakit jantung tanpa menjalani operasi.

Menurut penelitian di Israel, manfaat yang sama dapat membantu pria yang mengalami masalah impotensi. Beberapa ahli kesehatan sekarang yakin ada hubungan erat antara impotensi dan penyakit jantung, dan bahwa masalah-masalah seksual sering kali terdapat sinyal adanya penyumbatan pembuluh darah di daerah jantung yang mengurangi aliran darah ke seluruh tubuh.

Dokter di Rambam Medical Centre di Haifa - Israel, merekrut 20 pria dengan usia rata-rata 56 tahun untuk ambil bagian dalam penelitian. 20 pria tersebut mengalami masalah impotensi ringan hingga sedang dan sudah menjalani pengobatan selama rata-rata 3 tahun. Selama tiga minggu pengobatan pada penelitian, gelombang suara intensitas rendah berulang kali dialirkan ke 5 titik tertentu di area genital, menggunakan perangkat genggam. Kemudian dinilai keparahan penyakit pria pada skala 30 titik yang disebut International Index of Erectile Function, yang banyak digunakan untuk mengukur masalah impotensi. Semakin rendah skor, semakin besar masalah impotensi.

Sebelum penelitian, para pria tersebut memiliki rata-rata nilai antara 12 dan 20 poin, yang berarti mereka mengalami disfungsi seksual ringan hingga sedang. Tetapi setelah perawatan, nilai mereka meningkat sekitar 5 sampai 10 poin, menjadi rata-rata 17 sampai 30 poin. Para ahli mengatakan bahwa peningkatan 5 poin saja merupakan perbaikan yang signifikan.

Dalam 10 tahun terakhir, Viagra dan obat-obatan serupa seperti Cialis dan Levitra telah mengubah cara pengobatan impotensi, namun sekitar 30% pria yang menggunakannya tidak mengalami adanya kemajuan. Bagi 30% pria tersebut, satu-satunya pilihan lain adalah menyuntikkan obat langsung ke penis, atau menggunakan pompa manual untuk meningkatkan suplai darah ke organ genital. Dr. Yoram Vardi, yang memimpin penelitian mengatakan "Viagra dan sejenisnya bukan merupakan obat. Bila penderita berhenti minum, maka mereka kembali memiliki masalah impotensi. Dengan gelombang suara, pengobatan terjadi secara biologis, sehingga pasien kembali normal tanpa membutuhkan pengobatan lagi setelahnya".

Dr. John Dean, presiden dari International Society for Sexual Medicine (ISSM), mengatakan temuan itu menarik dan dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Baca SelengkapnyaCara Baru Pengobatan Impotensi Dengan Gelombang Suara
loading...

Kamis, 24 Desember 2009

Virus Flu Babi H1N1 (Swine Flu)

Virus Flu Babi H1N1 (Swine Flu)
Flu babi, juga dikenal sebagai influenza tipe A subtipe H1N1, adalah penyakit yang menyerang manusia. Penularan penyakit ini berasal dari penderita lain, bukan dari babi.

Penyakit ini awalnya dijuluki flu babi karena virus yang menyebabkan penyakit ini berasal dari babi. Virus ini sendiri mengandung gen dari virus flu pada babi, burung, dan manusia. Meskipun kebanyakan orang menyebut virus ini sebagai virus flu babi H1N1, para ilmuwan masih berdebat tentang nama apa yang tepat untuk virus tersebut.

Virus flu babi yang menyebar di antara babi tidak sama dengan virus flu manusia. Flu babi jarang menulari manusia, dan langka terjadi kasus manusia yang terkena dampak virus flu babi terutama yang kontak langsung dengan babi. Tapi wabah flu babi saat ini berbeda. Ini disebabkan karena virus flu babi tipe baru yang telah mengalami mutasi sehingga memungkinkan untuk menyebar dari manusia ke manusia, dan terjadi di antara mereka yang tidak pernah kontak dengan babi.

Untuk membedakan antara virus flu babi yang menginfeksi babi dan virus influenza A subtipe H1N1 yang telah mewabah pada manusia selama bertahun-tahun, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menamai virus ini dengan sebutan "Virus H1N1 2009". Nama yang lain yaitu "novel H1N1" atau nH1N1, "quadruple assortant H1N1", dan "H1N1 Pandemik 2009".

Gejala

Gejala flu babi H1N1 seperti gejala flu biasa yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, nyeri tubuh, sakit kepala, menggigil, dan kelelahan. Kadang-kadang disertai dengan diare dan muntah-muntah. Hampir semua orang yang terserang flu setidaknya muncul dua dari gejala-gejala tersebut. Namun gejala ini juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain. Itu berarti bahwa diagnosa flu babi tidak bisa dipastikan hanya berdasar pada gejala-gejala saja.

Untuk penanganan ketika gejala-gejala tersebut muncul adalah segera dilakukan tes laboratorium, meskipun hasil negatif tidak berarti Anda tidak memiliki flu. Akurasi dari tes tergantung pada kualitas bahan dan peralatan laboratorium, metode pengumpulan sampel, dan juga kemungkinan kontaminasi dari sampel penderita lain pada saat pengujian. Hanya tes laboratorium yang dapat memastikan apakah penderita terserang flu babi atau bukan.

Seperti flu musiman, pandemi flu babi dapat menyebabkan gejala neurologis pada anak-anak. Kejadian ini jarang terjadi, tapi bisa menjadi sangat parah dan seringkali fatal. Termasuk gejala kejang atau perubahan pada status mental (kebingungan, gangguan kognitif atau perubahan perilaku). Tidak jelas mengapa gejala ini terjadi, meskipun ada kemungkinan disebabkan oleh Sindrom Reye. Sindrom Reye biasanya terjadi pada anak-anak dengan penyakit virus yang diobati dengan Aspirin (sesuatu yang harus selalu dihindari).

Pengobatan

Virus flu babi H1N1 peka terhadap antivirus Tamiflu dan Relenza. Obat antivirus ini paling efektif bila diberikan pasien dalam waktu kurang dari 48 jam setelah awal gejala flu. Namun virus resisten terhadap obat tersebut bila lebih dari 48 jam.

Obat antivirus ketiga, Peramivir, dapat digunakan hanya pada pasien yang dirawat dengan flu yang parah. Peramivir adalah jenis narkoba suntikan yang telah disetujui untuk digunakan dalam keadaan darurat.

Tidak semua penderita memerlukan perawatan dengan obat tersebut. Kebanyakan penderita yang datang dengan flu babi H1N1 pulih sepenuhnya tanpa pengobatan antivirus. Tapi CDC merekomendasikan pengobatan untuk penderita dengan resiko komplikasi flu parah yang datang dengan gejala mirip flu. Karena sangat penting untuk segera memberikan obat ini setelah gejala muncul.

Pencegahan

Untuk pencegahan CDC merekomendasikan langkah-langkah berikut :
  1. Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air, terutama setelah batuk atau bersin.
  2. Hindari kontak dengan orang-orang yang memiliki gejala mirip flu, setidaknya jaga jarak sekitar 6 meter.
  3. Hindari menyentuh mulut, hidung, atau mata.
  4. Jika terdapat gejala flu seperti demam ditambah batuk atau sakit tenggorokan atau gejala flu lainnya, segera periksakan ke dokter.
  5. Kenakan masker jika harus kontak dekat dengan orang yang sakit, meskipun tidak ada bukti definitif bahwa masker dapat mencegah penularan flu.
  6. Orang yang menderita atau yang diduga menderita flu babi harus memakai masker, ketika berada di ruang umum.
  7. Ibu menyusui dengan gejala flu babi, sementara harus berhenti memberikan ASI kepada anaknya, dan anak harus diberi makan oleh orang lain.
Baca SelengkapnyaVirus Flu Babi H1N1 (Swine Flu)
loading...

Jumat, 21 November 2008

Gangguan Kepribadian Antisosial

Gangguan Kepribadian Antisosial
Gangguan Kepribadian Antisosial sering disebut Psikopat atau Sosiopat, dan sering dikaitkan dengan penyalahgunaan obat dan perilaku kriminal. DSM IV mengharuskan orang berusia sedikitnya 18 tahun untuk didiagnosis gangguan ini, dimana penderita gangguan ini sering telah menampakkan gejala pada usia sebelum 15 tahun.

Survey di Amerika Serikat lebih dari 3,5% populasi memenuhi kriteria Gangguan Kepribadian Antisosial, dengan perbandingan pria 4 kali lebih banyak daripada wanita dan orang kulit putih lebih banyak dibandingkan dengan orang kulit hitam.

Penelitian-penelitian tentang gangguan ini banyak dilakukan pada populasi penjara karena penderita hampir selalu berhubungan dengan kriminal dan penyalahgunaan obat dan alkoholisme.

Tanda-tanda Gangguan Kepribadian Antisosial adalah :
  • Bersikap tidak perduli dengan perasaan orang lain, kacau, sadistik, dan ugal-ugalan.
  • Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan menetap, dan tidak perduli terhadap norma, peraturan, dan kewajiban sosial.
  • Tidak mampu untuk mempertahankan hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya.
  • Mudah frustasi dan bertindak agresif, termasuk tindak kekerasan.
  • Tidak mampu untuk menerima kesalahan dan belajar dari pengalaman, terutama dari hukuman.
  • Sangat cenderung untuk menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang dapat diterima, untuk perilaku yang telah membawa penderita dalam konflik sosial.
Termasuk : Kepribadian Amoral, Asosial, Psikopatik dan Sosiopatik.
Tidak termasuk : Gangguan Tingkah Laku, Gangguan Kepribadian Emosional Tidak Stabil.

Psikodinamika Gangguan Kepribadian Antisosial

Penyebab dari gangguan ini selalu dimulai dengan tidak adanya cinta orang tua yang akan mengarahkan pada tidak adanya kepercayaan (lack of basic trust), kemudian menjadi gejala antisosial yang melalui suatu proses pembelajaran (reinforcement). Pada penderita ditemukan tingkat kecemasan yang rendah, sehingga mereka lebih berani mengambil resiko dan sesuatu yang menggetarkan.

Pengobatan Gangguan Kepribadian Antisosial

Sekitar 25% seluruh penderita Gangguan Kepribadian Antisosial mendapat pengobatan, tetapi tidak ada yang efektif. Problem utama dari pengobatan adalah bahwa pasien tidak merasa bersalah dan tidak ada keinginan untuk berubah.

Beberapa terapi perilaku mencoba untuk mengarahkan penderita dengan mengandalkan pada isu moral dalam pengobatan, dan dicoba untuk membuat komunikasi terapoitik, tetapi hingga saat ini tidak ada atau sedikit hasilnya.

link : Kesehatan dan Gangguan Jiwa >> Gangguan Kepribadian >> Gangguan Kepribadian Antisosial

Baca SelengkapnyaGangguan Kepribadian Antisosial
loading...

Posting Terbaru